Begini Awal Mula Modus Beras Oplosan dan Isi Dikurangi Akhirnya Terkuak
Lusi mahgriefie
Kamis, 17 Juli 2025 - 20:01 WIB
Ilustrasi: ist
Temuan beras oplosan hingga manipulasi berat pada kemasan beras merek tertentu mengejutkan dan tentunya merugikan masyarakat. Tak hanya itu, beberapa merek mematok harga jual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan pemerintah. Bagaimana awal mula sampai bisa ditemukan modus penipuan ini?
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menceritakan kronologi temuan beras oplosan yang merugikan masyarakat hingga Rp99,35 triliun. Hal ini ia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pada Rabu, 16 Juli.
Menteri Amran membeberkan bahwa pertama Ia menemukan adanya anomali harga beras sekira 1-2 bulan lalu. Harga di tingkat petani dan penggilingan turun, tetapi justru harga di tingkat konsumen naik. Seharusnya, menurut Amran, kalau petani naik maka baru bisa naik di tingkat konsumen.
Sementara itu, ujar Amran, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya memperkirakan produksi beras naik 14 persen atau 3 juta ton lebih. "Ada surplus 3 juta ton lebih dari kebutuhan, tetapi harga naik. Sehingga kami mencoba mengecek di seluruh Indonesia, ada 10 provinsi penghasil beras terbesar," katanya.
Kementerian mengecek 268 merek beras di 10 provinsi penghasil beras terbesar seluruh Indonesia. Sampel beras itu kemudian diperiksa di 13 laboratorium.
Ia mengaku khawatir jika ada komplain lantaran persoalan ini amat sensitif.
"Ini kesempatan emas bagi Indonesia untuk menata tata kelola beras, karena stok kita besar. Jadi kami tidak khawatir ada guncangan, karena stok kita ada 4 juta ton," ungkap Amran.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menceritakan kronologi temuan beras oplosan yang merugikan masyarakat hingga Rp99,35 triliun. Hal ini ia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pada Rabu, 16 Juli.
Menteri Amran membeberkan bahwa pertama Ia menemukan adanya anomali harga beras sekira 1-2 bulan lalu. Harga di tingkat petani dan penggilingan turun, tetapi justru harga di tingkat konsumen naik. Seharusnya, menurut Amran, kalau petani naik maka baru bisa naik di tingkat konsumen.
Sementara itu, ujar Amran, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya memperkirakan produksi beras naik 14 persen atau 3 juta ton lebih. "Ada surplus 3 juta ton lebih dari kebutuhan, tetapi harga naik. Sehingga kami mencoba mengecek di seluruh Indonesia, ada 10 provinsi penghasil beras terbesar," katanya.
Kementerian mengecek 268 merek beras di 10 provinsi penghasil beras terbesar seluruh Indonesia. Sampel beras itu kemudian diperiksa di 13 laboratorium.
Ia mengaku khawatir jika ada komplain lantaran persoalan ini amat sensitif.
"Ini kesempatan emas bagi Indonesia untuk menata tata kelola beras, karena stok kita besar. Jadi kami tidak khawatir ada guncangan, karena stok kita ada 4 juta ton," ungkap Amran.