home masjid

Abu Ubaidah: Senyum Terakhir Orang Terpercaya Umat

Jum'at, 18 Juli 2025 - 16:00 WIB
Sekitar 25 ribu orang wafat, termasuk salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dicintai dan dihormati: Abu Ubaidah ibn al-Jarrah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di bawah langit kelabu Damaskus pada tahun 16 Hijriyah, bau kematian menyeruak dari segala penjuru. Wabah Tha’un—penyakit pes di masa itu—menggulung Negeri Syam, merenggut ribuan nyawa. Sekitar 25 ribu orang wafat, termasuk salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling dicintai dan dihormati: Abu Ubaidah ibn al-Jarrah.

Di ujung hayatnya, panglima yang sederhana itu berdiri di tengah pasukannya yang dilanda duka dan demam. Suaranya masih lantang ketika berwasiat, “Jika kalian menerima wasiatku ini, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik. Dirikanlah shalat, berpuasalah di bulan Ramadhan, bayarlah zakat, tunaikan haji dan umrah. Salinglah menasihati, jangan biarkan pemimpin kalian tersesat, dan jangan tergoda oleh dunia…”

Ia lalu menoleh kepada Muadz bin Jabal, berkata lirih, “Wahai Muadz, sekarang kau yang menjadi imam.” Tak lama kemudian, Abu Ubaidah pergi menghadap Tuhannya, dengan senyum tenang di wajahnya.

Abu Ubaidah lahir di Makkah dengan nama Amir bin Abdullah bin Jarrah al-Fihry al-Qurasyi. Di kalangan Quraisy, ia bukan orang biasa. Dialah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga. Tak lama setelah Abu Bakar memeluk Islam, ia datang kepada Rasulullah bersama Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Mazh’un, dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucap syahadat. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu pilar awal bangunan Islam.

Baca juga: Karakteristik Fikih Sahabat Nabi Muhammad SAW: Lahirnya Syiah dan Sunni

Namanya tak pernah absen dari medan perang. Badar, Uhud, Khandaq, semuanya ia jalani tanpa gentar. Di Badar, sebuah peristiwa menyayat terjadi: ia berhadapan dengan penunggang kuda musyrik yang tak lain adalah ayahnya sendiri, Abdullah bin Jarrah. Dengan pedang terhunus, ia membelah kepala ayahnya. Bukan karena benci, tetapi karena memilih iman di atas segalanya.

Al-Qur’an bahkan mengabadikan keteguhannya: "Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara atau keluarga mereka…" (QS Al-Mujadilah: 22)*
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya