Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an Adalah Jejak-Jejak Petunjuk bagi yang Mau Belajar
Miftah yusufpati
Sabtu, 19 Juli 2025 - 05:14 WIB
Al-Quran, dengan caranya yang indah, berhasil menjahit langgam seni bertutur dengan pesan transenden. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bukan dongeng, bukan pula sekadar sejarah. Kisah-kisah yang ada dalam lembaran Al-Qur’an adalah strategi pendidikan Tuhan, yang membimbing manusia lewat cerita yang hidup dan penuh hikmah.
Di setiap lantunan Al-Qur’an, di antara ayat-ayat hukum, perintah ibadah, dan janji-ancaman, kita menemukan sesuatu yang terasa sangat manusiawi: cerita. Tentang Nabi Musa yang dikejar Fir’aun, tentang Nabi Nuh dan bahtera penyelamatnya, atau tentang kaum-kaum yang porak-poranda karena angkuh pada Tuhan. Kisah-kisah itu begitu banyak jumlahnya hingga mendominasi isi Al-Qur’an.
Prof Dr Harun Nasution dalam bukunya berjudul "Islam Rasional", mencatat bahwa ayat-ayat kisah (qishash) jauh lebih banyak dibanding ayat-ayat hukum. Bahkan, salah satu surat di Al-Qur’an diberi nama Al-Qashash — “kisah-kisah”. “Maka perlu kiranya kita sebagai umat Islam untuk mengetahui isi kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an sehingga kita dapat mengambil pelajaran,” tulis Harun.
Secara bahasa, kata qashash berarti “mengikuti jejak”. Seperti dalam surat Al-Kahfi ayat 64: Musa dan muridnya kembali mengikuti jejak perjalanan mereka. Kata itu juga bermakna kabar, berita, keadaan. Dan secara istilah, seperti dijelaskan Manna’ al-Qaththan, ia merujuk pada pemberitaan Al-Qur’an tentang umat-umat terdahulu, para nabi, dan peristiwa yang benar-benar terjadi.
Mengapa Tuhan memilih cara ini — bercerita — untuk menyampaikan pesan-pesan?
Baca juga: Kisah Samson atau Syam’un: Nabi Tanpa Pengikut
Menurut para ulama, kisah-kisah Al-Qur’an adalah media pendidikan yang paling efektif. Dengan cara bercerita, Al-Qur’an merangkul emosi pembacanya, memancing imajinasi, menumbuhkan empati, dan menyisipkan pesan moral tanpa terasa menggurui. “Seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu,” tulis Hasbi ash-Shiddieqy dalam tafsirnya. Dalam bahasa tafsir disebut shuratan nathiqah: narasi yang hidup dan berbicara.
Di setiap lantunan Al-Qur’an, di antara ayat-ayat hukum, perintah ibadah, dan janji-ancaman, kita menemukan sesuatu yang terasa sangat manusiawi: cerita. Tentang Nabi Musa yang dikejar Fir’aun, tentang Nabi Nuh dan bahtera penyelamatnya, atau tentang kaum-kaum yang porak-poranda karena angkuh pada Tuhan. Kisah-kisah itu begitu banyak jumlahnya hingga mendominasi isi Al-Qur’an.
Prof Dr Harun Nasution dalam bukunya berjudul "Islam Rasional", mencatat bahwa ayat-ayat kisah (qishash) jauh lebih banyak dibanding ayat-ayat hukum. Bahkan, salah satu surat di Al-Qur’an diberi nama Al-Qashash — “kisah-kisah”. “Maka perlu kiranya kita sebagai umat Islam untuk mengetahui isi kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an sehingga kita dapat mengambil pelajaran,” tulis Harun.
Secara bahasa, kata qashash berarti “mengikuti jejak”. Seperti dalam surat Al-Kahfi ayat 64: Musa dan muridnya kembali mengikuti jejak perjalanan mereka. Kata itu juga bermakna kabar, berita, keadaan. Dan secara istilah, seperti dijelaskan Manna’ al-Qaththan, ia merujuk pada pemberitaan Al-Qur’an tentang umat-umat terdahulu, para nabi, dan peristiwa yang benar-benar terjadi.
Mengapa Tuhan memilih cara ini — bercerita — untuk menyampaikan pesan-pesan?
Baca juga: Kisah Samson atau Syam’un: Nabi Tanpa Pengikut
Menurut para ulama, kisah-kisah Al-Qur’an adalah media pendidikan yang paling efektif. Dengan cara bercerita, Al-Qur’an merangkul emosi pembacanya, memancing imajinasi, menumbuhkan empati, dan menyisipkan pesan moral tanpa terasa menggurui. “Seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu,” tulis Hasbi ash-Shiddieqy dalam tafsirnya. Dalam bahasa tafsir disebut shuratan nathiqah: narasi yang hidup dan berbicara.