Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 27 Mei 2026
home masjid detail berita

Kisah Samson atau Syamun: Nabi Tanpa Pengikut

miftah yusufpati Kamis, 17 Juli 2025 - 16:15 WIB
Kisah Samson atau Syamun: Nabi Tanpa Pengikut
Samson atau Syamun adalah nabi Bani Israil yang disambut dengan janji perang tetapi ditinggalkan saat perintah itu datang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Samson atau Syam’un adalah nabi Bani Israil yang disambut dengan janji perang tetapi ditinggalkan saat perintah itu datang. Sebuah kisah tentang umat yang penakut dan nabi yang tabah.

Di antara lembar-lembar panjang sejarah Bani Israil, terselip satu episode yang getir: mereka meminta kepada seorang nabi untuk diangkatkan seorang raja demi berperang di jalan Allah, tetapi ketika perintah itu turun, hampir semua berpaling, menyisakan segelintir pejuang.

Cerita ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 246. Allah berfirman:

"Apakah kalian tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: ‘Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang di jalan Allah’. Nabi mereka menjawab: ‘Mungkin sekali jika kalian diwajibkan berperang, kalian tidak akan berperang’. Mereka menjawab: ‘Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?’ Tetapi ketika perang itu diwajibkan, mereka pun berpaling, kecuali sedikit di antara mereka. Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.”

Siapakah nabi yang dimaksud dalam ayat itu? Di kalangan ulama, kisah ini memunculkan banyak perdebatan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip As-Saddi bahwa nabi itu bernama Syam’un—lebih dikenal sebagai Samson. Sedangkan Mujahid, Wahb ibn Munabbih, dan Ibnu Ishaq lebih condong menyebutnya Syamuel (Samuel), sosok yang kemudian mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja.

Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan

Dalam narasi klasik yang dikutip dari Wahb ibn Munabbih, kisah ini bermula setelah wafatnya Nabi Musa. Bani Israil sempat hidup dalam ketaatan selama satu generasi. Namun lama-kelamaan mereka kembali kepada kebiasaan lama: menyembah berhala, berbuat maksiat, dan menolak nasihat para nabi. Allah pun menguji mereka dengan musuh-musuh yang datang menyerbu: negeri-negeri mereka dijajah, banyak dari mereka terbunuh atau dijadikan tawanan.

Dulu mereka selalu menang, sebab di tangan mereka masih ada Taurat dan tabut (peti perjanjian). Tapi ketika mereka semakin tenggelam dalam kesesatan, tabut itu direbut oleh musuh. Hanya segelintir di antara mereka yang hafal isi Taurat.

Dalam keadaan terjajah, mereka berharap lahir kembali pemimpin yang membawa mereka bangkit. Kenabian sendiri hampir punah dari keturunan Lewi, kecuali seorang wanita hamil dari suami yang syahid. Wanita itu berdoa siang malam supaya Allah memberinya anak laki-laki yang kelak menjadi nabi. Allah mengabulkan. Dari rahimnya lahirlah seorang bayi yang diberi nama Syam’un (atau Syamuel), yang artinya Allah mendengar doaku.

Ketika dewasa, Syam’un menyeru Bani Israil kepada tauhid, mengingatkan mereka akan janji Allah, dan memperingatkan dosa mereka. Kepadanya mereka meminta: “Angkatkanlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang di jalan Allah!”

Namun sang nabi menjawab dengan nada skeptis, “Kalau Allah benar-benar mewajibkan kalian berperang, apakah kalian akan taat?”

Mereka menjawab lantang, “Bagaimana mungkin kami tidak mau berperang padahal kami sudah diusir dari negeri kami dan anak-anak kami dirampas?”

Baca juga: Kebangkitan Barat yang Tanpa Tuhan: Ketika Pabrik Menjadi Kuil, dan Insinyur Menjadi Nabi

Tapi benar saja: ketika Allah benar-benar memerintahkan perang melalui Syam’un, mereka bubar, kecuali segelintir yang setia. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Allah memang sengaja menguji mereka untuk memilah mana yang tulus dan mana yang munafik.

Sebagian mufasir seperti Qatadah menyebut nama nabi itu Yusya’ ibn Nun, tetapi banyak ulama menolaknya karena Yusya’ hidup jauh sebelum masa Raja Daud, sedangkan kisah ini berhubungan dengan awal munculnya Thalut dan Daud. Yang jelas, siapapun dia, kisah ini menegaskan satu pola lama Bani Israil: meminta sesuatu, lalu ingkar begitu permintaan itu terkabul.

Di luar kitab-kitab tafsir, tradisi Yahudi dan Kristen mengenal nama Samson (Syam’un), tokoh yang juga dikaitkan dengan kekuatan besar yang dikaruniai Allah, tetapi akhirnya dikhianati kaumnya. Sedangkan dalam tradisi Islam, nama Syamuel lebih dikenal sebagai nabi yang diutus untuk Bani Israil sebelum Daud.

Kisah Syam’un atau Syamuel ini bukan hanya soal pertempuran fisik, tetapi juga pertempuran batin. Tentang bagaimana iman diuji bukan saat memohon sesuatu, tetapi ketika saat itu benar-benar tiba.

Dan umat yang penakut, hanya menyisakan nabi yang berdiri sendiri di depan janji-janji kosong mereka.

Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa

Hingga hari ini, ayat itu tetap menjadi pengingat: bahwa berjanji untuk berjuang di jalan Allah mudah, tetapi melaksanakannya adalah ujian yang sebenarnya.

Seperti yang ditegaskan di ujung ayat: “Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.”

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 27 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)