Awas Bahaya Istidraj, Allah SWT Biarkan Kita Tertipu Kenikmatan Sejatinya Kemurkaan
Ahmad zuhdi
Rabu, 01 Desember 2021 - 14:05 WIB
Ilustrasi orang kaya raya. Foto: Langit7.id/iStock
Dalam realitas kehidupan, bila kita mendapati orang yang bergelimang harta, kedudukannya tinggi, dan memiliki jabatan bergengsi, sedangkan hubungan dengan Allah sangat jauh, maka perlu diwaspadai. Bisa jadi hal itu bukan suatu anugerah (pemberian) dari Allah, melainkan istidraj, yaitu kenikmatan yang membinasakan.
Secara bahasa, istidraj diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman:
Baca Juga:Masjid Tertua di Merauke, Bisa Jadi Tempat Shalat Atlet PON XX
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ
Sanastadrijuhum min haytsu la ya'lamuun.
Arti: “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Secara bahasa, istidraj diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman:
Baca Juga:Masjid Tertua di Merauke, Bisa Jadi Tempat Shalat Atlet PON XX
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ
Sanastadrijuhum min haytsu la ya'lamuun.
Arti: “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: