LANGIT7.ID, Jakarta - Dalam realitas kehidupan, bila kita mendapati orang yang bergelimang harta, kedudukannya tinggi, dan memiliki jabatan bergengsi, sedangkan hubungan dengan Allah sangat jauh, maka perlu diwaspadai. Bisa jadi hal itu bukan suatu anugerah (pemberian) dari Allah, melainkan istidraj, yaitu kenikmatan yang membinasakan.
Secara bahasa, istidraj diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman:
Baca Juga: Masjid Tertua di Merauke, Bisa Jadi Tempat Shalat Atlet PON XXسَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ
Sanastadrijuhum min haytsu la ya'lamuun.
Arti: “Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
Idza ro'aytaAllahi ta'ala yu'til abda minad dunya ma yuhibbu wa huma muqiimun ala ma'asihi fainnama dzalika minhus-tidraaj.Arti: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).
Baca Juga: Masjid Tertua di Jayapura yang Dulu Pernah Jadi Tempat Karaoke Allah Ta'ala berfirman:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Falamma nasuu ma dzukkiru bihi fatahna alaihim abwaba kulli say'in hatta idza farihu bima utu akhadzna ahum bagtatang faidza hum mublisun.Arti: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami Pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An'am: 44)
Dalam Tafsir Al Jalalain halaman 141 disebutkan, "Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan."
Baca Juga: Masjid Istiqlal Akan Kelola Aset Lahan KAI Juanda-GambirSementara Syaikh As Sa'di dalam Tafsir As Sa’di, halaman 260 menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.”
Maka, sudah sepatutnya kita waspada dan mawas diri dengan melakukan muhasabah (introspeksi), apabila Allah memberi kelebihan rezeki berupa harta, tahta, dan kedudukan sementara ibadah dan pengabdian diri kepada Allah masih jauh. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam kubangan maksiat dengan segala hal yang dimiliki dan semakin menjauhkan diri dari Rabb semesta alam yang pada akhirnya akan membinasakan.
Naudzubillah.
Baca Juga:
Ini Orang-Orang yang Tak Boleh Dinikahi dalam Islam
Tidur sebelum Isya Ternyata Punya Efek Buruk bagi Kesehatan(asf)