LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Psikolog sekaligus edukator keluarga,
Intan Erlita, menyampaikan keprihatinannya terhadap normalisasi
perilaku menyimpang di generasi muda. Ironisnya, pihak yang mengingatkan malah menjadi sasaran kritik.
Ia menilai saat ini terjadi pergeseran nilai, di mana batas antara benar dan salah mulai kabur akibat pengaruh lingkungan dan arus informasi yang begitu deras.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Intan Erlita mengingatkan para orang tua untuk berhati-hati menyikapi fenomena ini.
Baca juga: Cara Intan Erlita Membatasi Pemakaian Gadget Berlebih pada Anak"Hati-hati, Ayah Bunda. Secara psikologis, kalau kita sering memaklumi kesalahan yang berulang, lama-lama nurani kita akan mati rasa dan menganggap hal salah itu “benar”," katanya di akun @intan_erlita, dilihat LANGIT7.ID pada Selasa (9/6/2026).
Menurut Intan, berbagai bentuk
pergaulan bebas hingga penyimpangan perilaku seksual kini kerap dibungkus dengan narasi kebebasan, hak individu, atau toleransi yang berlebihan. Akibatnya, banyak remaja tidak lagi melihat perilaku tersebut sebagai sesuatu yang perlu dihindari.
"Ini namanya repetisi atau pengulangan. Repetisi itu bagus tapi jangan sampai ke arah negatif. Apabila ke arah yang negatif maka terjadi repetisi negatif. Contohnya, hal salah tapi karena dilakukan orang banyak akhirnya diterima karena banyak orang yang melakukan," terang Intan.
Intan kemudian menyoroti sejumlah fenomena yang mulai dinormalisasi masyarakat seperti hamil di luar nikah dan hubungan sesama jenis.
"Hati-hati. Normalisasi hal yang salah menjadi pembenaran untuk anak-anak sekarang. Orang tua, kita nggak boleh lengah dengan hal ini. Karena ini perusakan anak kita dari dalam untuk konsep benar dan salah," tambahnya.
Baca juga: Cara Pandang Islam Atasi Maksiat: Ubah Toxic Jadi DoaDi akhir unggahannya, Intan mengingatkan bahwa ketika masyarakat terus-menerus membenarkan perilaku yang bertentangan dengan norma agama dan moral, maka yang terjadi bukan sekadar perubahan gaya hidup, melainkan krisis nilai yang dapat berdampak pada masa depan generasi muda.
"Mereka tumbuh jadi generasi ikut-ikutan. Generasi yang cuma ikut tren tanpa tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tugas kita bukan membentuk anak yang populer, tapi anak yang punya prinsip. Yuk, mulai dari rumah, berani beda demi kebenaran," urai Intan.
Dalam perspektif Islam, pergaulan bebas dan perilaku seksual menyimpang bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga dapat membawa dampak sosial yang luas. Karena itu, Islam menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri, menundukkan pandangan, serta membangun lingkungan yang mendukung ketakwaan.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Isra ayat 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا ٣٢
Artinya: Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.(QS. Al-Isra: 32)
Ayat tersebut tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala pintu yang dapat mengantarkan seseorang kepada perbuatan itu.
Baca juga: Rasulullah Ajarkan Umatnya Benci Maksiat tapi Kasihani Pelakunya(est)