Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Rasulullah Ajarkan Umatnya Benci Maksiat tapi Kasihani Pelakunya

Muhajirin Jum'at, 10 Februari 2023 - 10:00 WIB
Rasulullah Ajarkan Umatnya Benci Maksiat tapi Kasihani Pelakunya
Ilustrasi (Foto: pixabay)
LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu keindahan ajaran Islam adalah kasih sayang, bahkan terhadap pelaku maksiat sekalipun. Umat Islam tidak diperbolehkan mencela orang yang dihukum karena bermaksiat, tetapi dianjurkan untuk mendoakan mereka.

Rasulullah SAW menganjurkan untuk tetap mengasihani para pelaku maksiat. Itu karena bagaimanapun, mereka adalah saudara kita sesama muslim:

“Jika kalian melihat saudara kalian dihukum, maka janganlah kalian melaknatnya dan janganlah kalian membantu setan, tetapi katakanlah, ‘Semoga Allah merahmatinya dan semoga Allah menerima taubatnya’.” (HR Bukhari Muslim).

Baca Juga: Bakomubin: Dakwah Nabi Dibangun di Atas Landasan Tauhid

Mengutip laman resmi An Najah Ponpes Sidogiri, maksiat merupakan perbuatan kotor, keji, dan hina. Oleh karena itu, syariat Islam mewajibkan penganutnya untuk membenci segala bentuk kemaksiatan. Sebab, maksiat merupakan hal kotor yang hanya diberikan kepada musuh-musuh Allah dan orang-orang yang hatinya penuh penyakit. Sebagaimana penjelasan Syekh Muhammad bin Salim Bafaishol Asy-Syafi’i dalam kitab Is’adur-Rafiq.

Bukan hanya membenci, bahkan umat Islam wajib mencegah kemaksiatan atau kemungkaran yang ia jumpa sesuai tingkatan kemampuannya. Sebagaimana hadits riwayat Abi Said al-Khudri berikut:

“Barangsiapa dari kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaan). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan hal itu merupakan paling lemahnya iman.” (HR Muslim)

Baca Juga: Bacaan Doa Kurb, Diamalkan Nabi SAW saat Dapat Kesulitan Berat

Kendati demikian, umat Islam harus tetap rida pada takdir yang telah terjadi. Rida bukan berarti diam dan meridhai maksiat yang dilakukan. Melainkan dengan tidak mempersoalkan takdir yang telah terjadi disertai keyakinan bahwa itu semua itu mengandung hikmah yang tidak manusia ketahui. Imam al-Khayali dalam kitabnya berkata:

“Kufur dan maksiat memiliki dua sisi. Sisi pertama, bahwa keduanya merupakan ketentuan dan keputusan Allah. Sisi kedua, bahwa keduanya merupakan sebuah pekerjaan yang dilakukan seorang hamba. Maka wajib rida pada sisi pertama (keduanya adalah takdir Allah) bukan dari sisi kedua (keduanya merupakan pekerjaan hamba).”

Dengan demikian, ketika terjadi suatu kemaksiatan, ada dua sikap berbeda yang harus dicerminkan oleh setiap orang beriman yakni ingkar dan rida. Ingkar artinya mengingkari perbuatan tersebut. Rida artinya tidak mempertanyakan atau memendam perasaan tidak terima atas kejadiannya kemungkaran tersebut, sebab sejatinya hal itu adalah takdir Allah.

Baca Juga: Tafsir Surat Thaha Ayat 114: Semangat Nabi Menuntut Ilmu

Namun, umat Islam dianjurkan untuk mengasihani orang yang berlaku maksiat. Asy-Syakrani, Imam Mutharrif bin Abdillah Shikhkhir al-Amiri al-Harasyi al-Basri, salah satu tokoh senior tabiin pernah mengatakan:

“Jika seseorang tidak memiliki rasa simpati terhadap pelaku maksiat, maka sebaiknya dia berdoa saja untuk mereka agar segera bertaubat dan memohon ampunan. Sebab, di antara akhlak para malaikat adalah meminta ampunan untuk penduduk bumi.”

Bahkan, salah satu ulama sufi, Imam Syaqiq bin Ibrahim al-Bakhli, mengatakan, orang yang mendengar penyebutan lelaki yang buruk, lalu dia tidak peduli untuk berbelas kasih padanya, maka dia lebih jelek pada orang tersebut.

Baca Juga: Tafsir Surat Thaha Ayat 114: Semangat Nabi Menuntut Ilmu

“Ketika dituturkan kepadamu laki-laki yang buruk (kelakuannya) dan kamu tidak peduli seraya berbelas kasihan kepadanya, maka kamu adalah orang yang lebih buruk darinya.”

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)