LANGIT7.ID-Dalam konstelasi teologi Islam, terminologi cinta memiliki tingkatan yang sangat presisi. Di antara sekian banyak istilah untuk menggambarkan kedekatan makhluk dengan Khalik, ada satu derajat yang menempati kasta tertinggi:
al-khullah. Ini bukan sekadar rasa sayang biasa, melainkan cinta yang telah merasuk ke dalam sela-sela hati, tidak menyisakan ruang bagi selain yang dicintai. Dalam sejarah kemanusiaan, hanya ada dua sosok yang tercatat secara otoritatif dalam teks suci sebagai pemegang gelar ini: Ibrahim Alaihissalam dan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Mengenal pribadi Ibrahim melalui kacamata Al-Quran berarti membedah esensi penyerahan diri yang total. Allah Azza wa Jalla menegaskan kedudukan istimewa ini dalam surah An-Nisa ayat 125:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاDan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya (khalilan). (QS. An-Nisa: 125).
Penyebutan Ibrahim sebagai Khalilullah (kekasih Allah) dalam ayat ini merupakan legitimasi atas kualitas spiritual yang melampaui zaman. Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Quran al-Azhim menjelaskan bahwa al-khullah adalah bentuk kecintaan yang paling sempurna. Menurut beliau, Ibrahim mencapai derajat ini karena ketaatannya yang tanpa syarat saat menghadapi berbagai ujian yang mengoyak nalar kemanusiaan, mulai dari perintah penyembelihan putra hingga pengusiran keluarga ke lembah yang tandus.
Menariknya, keutamaan ini tidak berhenti pada sosok Ibrahim semata. Berabad-abad kemudian, Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam juga diangkat menuju maqam yang sama. Dalam sebuah riwayat dari Jundub bin Abdillah yang tercatat dalam Sahih Muslim nomor 532, Rasulullah menegaskan paralelisme spiritual ini:
وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجEL جَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاSesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikanku sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai khalil (kesayangan).
Hadis ini memberikan pesan interpretatif yang sangat kuat mengenai integritas ketauhidan. Rasulullah bahkan menolak untuk menjadikan manusia mana pun sebagai khalil—termasuk sahabat terdekatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq—hanya untuk menjaga agar ruang al-khullah di hatinya tetap murni milik Allah semata. Hal ini membuktikan bahwa hubungan antara sang kekasih dan Sang Pencipta adalah hubungan eksklusif yang tidak boleh diselingi oleh ketergantungan pada makhluk.
Interpretasi atas gelar ini juga dibahas secara mendalam oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab
Zadul Maad. Beliau menekankan bahwa derajat al-khullah lebih tinggi daripada al-mahabbah biasa. Jika setiap nabi dan orang mukmin dicintai oleh Allah, maka al-khullah adalah cinta yang sudah mencapai puncaknya. Ibrahim dan Muhammad disebut sebagai dua kekasih Allah karena misi mereka yang serupa dalam memurnikan ajaran tauhid dan menjadi poros bagi hidayah umat manusia.
Sayyid Qutb dalam
Fi Zhilalil Quran menafsirkan pribadi Ibrahim sebagai sosok yang telah selesai dengan dunianya. Ketika Allah mengambil Ibrahim sebagai khalil, itu adalah simbol bahwa sang nabi telah lulus dalam ujian loyalitas. Baginya, mengikuti millah Ibrahim yang lurus bukan sekadar mengikuti tata cara ritual, melainkan mengikuti semangat keberanian untuk mencintai Allah di atas segalanya.
Gelar Khalilurrahman yang disandang Ibrahim dan Muhammad menjadi pengingat bagi setiap mukmin bahwa puncak dari keberagamaan adalah cinta. Ibrahim membangun fondasinya, dan Muhammad menyempurnakannya. Kedua pribadi agung ini menunjukkan bahwa manusia bisa mencapai kedekatan yang begitu intim dengan Sang Pencipta melalui kepasrahan yang tulus dan amal kebaikan yang kontinu. Melalui mereka, kita belajar bahwa menjadi hamba adalah tentang menempatkan Allah di ruang terdalam hati, di mana tidak ada lagi jarak antara keinginan hamba dan kehendak Tuhannya.
(mif)