Kisah Humor Sufi: Jubah Nasrudin Hoja yang Jatuh
Miftah yusufpati
Rabu, 23 Juli 2025 - 17:00 WIB
Orang yang paling beruntung adalah yang bisa tertawa di saat ia ingin menangis, dan tetap bersyukur ketika ia terjatuh. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu malam, Nasrudin Hoja pulang bersama teman-temannya setelah seharian berkeliling kota, bercakap-cakap tentang kehidupan, takdir, dan kadang juga sekadar bergosip soal siapa yang utangnya paling banyak.
Langit sudah gelap dan bulan hanya separuh, jadi mereka berjalan pelan sambil bercanda kecil. Sesampainya di depan rumah, Nasrudin melambai kepada teman-temannya.
“Baiklah, sampai jumpa besok. Semoga kalian masih hidup untuk membayari utang masing-masing,” katanya sambil tersenyum.
Mereka tertawa dan melanjutkan jalan, sementara Nasrudin masuk ke rumah.
Begitu pintu ditutup, suasana hangat rumah langsung terasa panas. Di dalam, istrinya sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bertolak pinggang dan wajah semerah bara api.
“Aku sudah bersusah payah memasak untukmu sore tadi!” serunya sambil menarik telinga Nasrudin.
“Eh, pelan-pelan!” teriak Nasrudin. Tapi terlambat. Dengan satu jeweran yang bertenaga, istrinya menjewer Nasrudin begitu keras sampai ia kehilangan keseimbangan, terpelanting, dan jatuh menabrak sebuah peti kayu di pojok ruangan.
Langit sudah gelap dan bulan hanya separuh, jadi mereka berjalan pelan sambil bercanda kecil. Sesampainya di depan rumah, Nasrudin melambai kepada teman-temannya.
“Baiklah, sampai jumpa besok. Semoga kalian masih hidup untuk membayari utang masing-masing,” katanya sambil tersenyum.
Mereka tertawa dan melanjutkan jalan, sementara Nasrudin masuk ke rumah.
Begitu pintu ditutup, suasana hangat rumah langsung terasa panas. Di dalam, istrinya sudah berdiri di tengah ruangan dengan tangan bertolak pinggang dan wajah semerah bara api.
“Aku sudah bersusah payah memasak untukmu sore tadi!” serunya sambil menarik telinga Nasrudin.
“Eh, pelan-pelan!” teriak Nasrudin. Tapi terlambat. Dengan satu jeweran yang bertenaga, istrinya menjewer Nasrudin begitu keras sampai ia kehilangan keseimbangan, terpelanting, dan jatuh menabrak sebuah peti kayu di pojok ruangan.