home masjid

Bayangan Unta dan Singgasana: Cerita Muawiyah dan Raja Hadhramaut

Kamis, 24 Juli 2025 - 05:15 WIB
Wail bin Hujr mengajarkan satu kalimat yang layak direnungkan siapa pun: Jika waktu bisa mundur, aku ingin menggendong Muawiyah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di bawah terik matahari Madinah yang kejam, seorang pemuda bertelanjang kaki berjalan mengikuti bayangan seekor unta. Di punggung unta itu duduk seorang raja dari Hadhramaut, baru masuk Islam, berwibawa namun belum luluh. Pemuda itu bernama Muawiyah bin Abi Sufyan.Kala itu, ia tak lebih dari seorang pelayan miskin yang baru dua tahun memeluk Islam.

Itulah perjumpaan pertama Muawiyah dengan Wail bin Hujr, raja dari Yaman Selatan. Perjumpaan yang dalam sejarah Islam kelak akan menjadi pelajaran tentang sabar, rendah hati, dan bagaimana Allah membolak-balikkan keadaan manusia.

Tahun kesembilan Hijriyah, setelah Fathu Makkah, kaum dari berbagai pelosok berbondong-bondong datang ke Madinah. Salah satu kafilah datang dari Hadhramaut, dipimpin Wail bin Hujr, untuk menyatakan keislaman dan berbaiat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Rasulullah menyambut mereka hangat. Kepada Wail, beliau menghadiahkan sebidang tanah dan kebun luas, lalu menunjuk Muawiyah, pemuda miskin yang tengah belajar Islam, untuk menemani sang raja menunjukkan lokasi tanah itu.

Dengan unta yang megah, Wail duduk tegak di punggungnya. Di bawah, Muawiyah berjalan dengan kaki telanjang menyusuri tanah yang membara. Ia memohon, “Bolehkah aku naik di belakangmu?” Wail menjawab dingin, “Aku bukan pelit, tapi kau tak pantas duduk bersama seorang raja.”

Baca juga: Ali bin Abi Thalib di Mata Dhirar bin Dhamrah: Membuat Muawiyah Menangis

Muawiyah diam. Ia memohon lagi, “Kalau begitu, pinjamkan sandalmu.” Wail menolak juga: “Berjalanlah di bawah bayangan untaku saja!” Bayangan unta yang sesekali bergeser, bahkan tak cukup untuk melindungi kaki muda Muawiyah dari panasnya batu dan pasir.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya