home masjid

Ketika Abu Nawas Menjadikan Humor sebagai Senjata Hukum

Senin, 28 Juli 2025 - 04:04 WIB
Di balik humor dan absurditasnya, tersembunyi pelajaran besar tentang keadilan, keberanian, keikhlasan, dan kecerdasan moral. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada suatu sore yang teduh di Baghdad, Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya. Buku-buku terbuka, pikiran mereka dipenuhi hikmah dan tawa—karena bersama Abu Nawas, keduanya selalu datang beriringan.

Tiba-tiba, dua tamu datang. Seorang nenek penjual kahwa dan seorang pemuda Mesir yang tampak seperti habis tertimpa ekonomi dan asmara sekaligus. Dengan suara lirih dan wajah lesu, pemuda itu bercerita: ia datang ke Baghdad membawa harta dagang, menginap di sebuah rumah kost, lalu bermimpi menikah dengan anak Kadi.

Masalahnya? Mimpi itu sampai ke telinga Kadi. Dan bukannya tertawa, Kadi justru meminta mas kawin seperti dalam mimpi. Ketika si pemuda menolak, Kadi langsung menyita semua hartanya. Jadilah si pemuda pedagang itu berubah status menjadi tunawisma yang ditolong oleh nenek penjual kahwa.

Abu Nawas mendengarkan dengan penuh perhatian. Lalu, seperti biasa, ia merespons dengan sesuatu yang—setidaknya menurut logika Baghdad—tidak biasa.

Baca juga: Abu Nawas Menolak Jabatan, Naik Pisang Jadi Kuda

“Anak-anak,” katanya kepada murid-muridnya, “tutup kitab kalian. Malam ini kita akan belajar pelajaran baru. Bawa cangkul, kapak, martil, dan batu. Kita akan praktik langsung.”

Malam itu, belasan murid Abu Nawas berbondong-bondong ke rumah sang Kadi. Tanpa aba-aba, mereka mulai merubuhkan rumah itu. Batu melayang, dinding runtuh, orang-orang kampung melongo. Tapi karena ini Baghdad, mereka hanya berbisik, “Pasti ini kerjaan Abu Nawas…”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya