LANGIT7.ID-Di Baghdad yang panasnya bisa bikin anggur jadi kismis dalam sehari,
Abu Nawas sedang bersedih. Bapaknya—seorang kadi (hakim agama)—baru saja wafat. Tapi belum habis tangisnya, utusan kerajaan sudah mengetuk pintu.
“Abu Nawas, Baginda Sultan memanggilmu ke istana,” kata si wazir dengan nada resmi, padahal mulutnya masih bau semur daging.
"Memanggilku? Aku tak punya utang di istana, kenapa aku dipanggil?” jawab Abu Nawas santai sambil memeluk... batang pisang.
Ya, batang pisang. Itulah "kuda" yang ia tunggangi ke mana-mana sejak ayahnya wafat. Ia bahkan lari-lari keliling kota sambil menjerit, “Hiaaa! Hiaaa!” seperti pahlawan perang naik kuda perang, padahal yang ia pacu hanya seonggok batang pisang busuk. Warga pun heboh: “Abu Nawas gila! Trauma karena ditinggal bapaknya!”
Tapi Sultan Harun Al Rasyid tidak gampang terkecoh. “Dia itu bukan gila, dia sedang akting. Ayo, bawa ke sini, mau pakai paksa juga!” titah Baginda sambil membanting buah delima.
Baca juga: Melacak Fakta Sejarah Tentang Sosok Kontroversial Abu Nawas Di istana, Abu Nawas tetap dalam mode ngaco total. Ketika Sultan bertanya serius, ia malah menjawab, “Baginda... terasi itu asalnya dari udang!”
Seketika seisi istana mendadak hening.
“Apa maksudmu?” tanya Sultan dengan urat di dahi menari-nari.
“Saya cuma bertanya balik, Baginda. Apa ada yang bilang udang berasal dari terasi?” jawab Abu Nawas dengan polosnya.
Duuuh... dihajar deh, 25 kali pukulan dari prajurit. Abu Nawas terkapar, tapi mukanya tetap senyum kayak habis dapat gaji ke-13. Di tengah jalan pulang, ia bertemu penjaga gerbang kota.
“Mana janjimu? Kau kan harus bagi dua hadiah dari Sultan!” tagih si penjaga, yang sebelumnya pernah memaksa Abu Nawas janji begitu.
“Betul,” kata Abu Nawas kalem. “Ini dia: sret...” Ia angkat tongkat, dan bret! bret! bret! — 25 kali juga si penjaga digetok.
Penjaga pun klenger, lalu mengadu ke Sultan.
"Abu Nawas, kenapa kau pukuli penjaga gerbang?" tanya Baginda setelah memanggilnya lagi.
"Hamba cuma adil, Baginda. Hadiah dari Tuanku adalah 25 pukulan. Dan karena kami sepakat bagi dua, maka saya beri semua bagiannya kepada dia."
Baca juga: Abu Nuwas atau Abu Nawas, Ahli Maksiat yang Bertaubat Sultan pun tertawa, sambil menunjuk penjaga gerbang, “Tuh, rasain! Lain kali jangan main paksa-paksa janji orang!”
Setelah itu, Sultan bertanya, “Abu Nawas, kenapa kau pura-pura gila sejak ayahmu wafat?”
Abu Nawas menunduk. “Karena saya mencium telinga kanan ayah saya: harum. Tapi yang kiri, busuk. Kata ayah saya, itu karena dia pernah hanya mendengarkan satu pihak dan menolak mendengar pihak lain saat menjadi kadi.”
“Astaghfirullah...” gumam Sultan.
“Itu sebabnya, Baginda, saya lebih baik dianggap gila... daripada harus menjadi hakim yang tidak adil,” kata Abu Nawas pelan. “Sebab telinga ini akan saya pertanggungjawabkan nanti.”
Baginda Harun Al Rasyid terdiam. Kemudian ia berseru, “Tapi kamu tetap harus datang jika aku butuh pendapatmu!”
Abu Nawas tersenyum, “Asal tidak sambil dipukuli, Baginda.”
---
Hikmah dari kisah tersebut antara lain adalah:
1. Menjadi Pemimpin Itu Berat, Jangan Diremehkan Abu Nawas menolak jabatan kadi (hakim) bukan karena tak mampu, tapi karena tahu beratnya tanggung jawab itu. Ia sadar, kesalahan kecil dalam memutus perkara bisa berakibat dosa besar di akhirat.
Baca juga: Kisah Sufi Humor Nasrudin Hoja: Sepotong Keju 2. Simbol Gila untuk Menolak Dunia Abu Nawas pura-pura gila agar bebas dari tekanan duniawi, termasuk jabatan. Dalam tradisi sufi, “kegilaan” kadang adalah tameng dari keterikatan dunia. Ia memilih dianggap aneh, daripada terjebak dalam kekuasaan yang berpotensi menjerumuskannya ke dalam kezaliman.
3. Keadilan Menuntut Pendengaran yang Seimbang Kisah telinga sang ayah yang satu harum dan satunya busuk menggambarkan pentingnya mendengarkan kedua belah pihak dalam menegakkan keadilan. Hakim tidak boleh berat sebelah.
4. Kesepakatan yang Tak Adil Patut Dipertanyakan Saat Abu Nawas “membagi hadiah” berupa pukulan ke penjaga gerbang, itu sindiran pada budaya korup atau pungli: mereka yang menekan dan menuntut bagian dari hasil jerih payah orang lain—tanpa mau ikut menanggung risikonya.
Baca juga: Kisah Humor Sufi: Nasrudin dan Pencuri yang Malang 5. Kebijaksanaan Bisa Tersembunyi di Balik KekonyolanTindakan Abu Nawas tampak konyol dan tak masuk akal. Tapi di balik itu, tersembunyi pesan moral yang tajam dan mendalam. Ini mengajarkan kita untuk tidak cepat menilai orang dari permukaan saja.
Jika dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, kisah ini memperkuat pesan bahwa:
- Amanah harus ditolak bila tidak mampu menjalankannya.
- Menjaga integritas lebih utama daripada mengejar kedudukan.
- Humor bisa menjadi cara efektif menyampaikan kebenaran.
(mif)