LANGIT7.ID, Jakarta - Nama Abu Nawas atau Abu Nuwas begitu populer sebagai sosok yang cerdik, jenaka dan kocak. Dalam banyak kisah, tak jarang dia mengakali Khalifah Harun Ar-Rasyid. Ada pula puisi-puisi cabul yang dinisbatkan kepadanya. Tapi, menurut pakar sejarah peradaban Islam, Ustadz Asep Sobari, klaim-klaim tersebut sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat.
Lalu bagaimana fakta tentang sosok Abu Nuwas?. Abu Nuwas (Abu Nawas) lahir pada abad ke-7 masehi atau abad ke-2 hijiriyah. Pria bernama lengkap Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakimi merupakan sastrawan ternama yang hidup pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Dia hidup sebagai seorang tokoh sastra yang diakui sebagai pujangga ternama. Kritikus sastra yang hidup pada abad ke-3 dan seterusnya mengakui itu. Namun, tidak banyak referensi sejarah yang bisa dijadikan landasan kuat, sehingga mayoritas masyarakat mengenal Abu Nuwas dari buku-buku dongeng.
“Dia hidup di masa puncak kebesaran puisi-puisi era peradaban Islam. Dia bukan orang sembarangan dalam hal ini. Modal besar dia itu sastra, jadi bukan kejenakaan. Abu Nuwas juga semasa dengan Imam Syafi’i. Bahkan disebutkan ada pertemuan dengan dengan Imam Syafi’i,” kata Asep Sobari di Sirah TV, Rabu (10/8/2022).
Puisi paling terkenal yang dinisbatkan kepada Abu Nuwas adalah puisi tentang deskripsi khamr. Tidak ada satupun penyair yang mampu menyamai gubahan puisi tersebut. Tapi, perlu diketahui, Abu Nuwas seorang penyair yang menggubah puisi di berbagai level.
Baca Juga: Abu Nuwas atau Abu Nawas, Ahli Maksiat yang Bertaubat
“Dia bermain di banyak level, dia ketemu Harun ar-Rasyid, sesama penyair, masyarakat, banyak tema puisi,” ucap Asep.
Referensi sejarah terkait Abu Nuwas memang sangat sedikit. Namun, Ibnu Katsir menegaskan, Abu Nuwas bukan seorang Zindik. Banyak penyair yang datang setelah Abu Nuwas membuat puisi lalu menisbatkan kepada Abu Nuwas.
Puisi-puisi yang dinisbatkan itu terlanjur dikenal di tengah masyarakat, sehingga awam menyebut gubahan syair berasal dari Abu Nuwas. Terutama puisi-puisi berbau cabul. Banyak puisi yang bernada maksiat yang dinisbatkan kepada sosok Abu Nuwas.
“Terutama yang terkait dengan cabul. Ada seorang penyair yang terkenal fasik Walibah bin Hubab, suka mengubah puisi-puisi cabul. Dalam kitab karya Ibnu Kutaibah, disebutkan, bahwa Syair gubahan Walibah bin Hubab itu punya dia, tapi orang Awam menyebutnya itu dari Abu Nuwas. Padahal bukan,” kata Asep.
Lumrah ketika seorang memiliki nama besar di satu bidang, sehingga banyak orang menisbatkan satu karya kepada Abu Nuwas. Apalagi, di akhir hayatnya, Abu Nuwas membuat satu bait puisi yang diakui oleh Abu Al-Athahiyah, seorang sastrawan yang sangat zuhud.
“Abu Al-Athahiyah mengatakan, ‘aku telah menggubah 2000 puisi. Tapi itu tidak berarti dibanding 3 bait puisi Abu Nuwas. Karena maknanya dalam sekali. Puisi jelang akhir hayat itu berbau taubat. Dia mengakui banyak salah, dan bertaubat. Dia menunjukkan bahwa ada harapan bahwa Allah maha pengampun,” kata Asep.
Baca Juga: Bayt Al-Hikmah, Jejak Kemajuan Sains di Masa Keemasan Islam
Lalu, kenapa sosok Abu Nuwas sangat populer?
Kepopuleran Abu Nuwas tidak terlepas dari Harun Ar-Rasyid. Harun Ar-Rasyid menjadi bidikan utama para musuh. Banyak musuhnya yang gigih menggambarkan sosok Harun Ar-Rasyid sebagai orang yang berperilaku buruk. Itu untuk menutup fakta kecemerlangan seorang Harun Ar-Rasyid.
“Bahkan, Harun Ar-Rasyid masuk ke dalam buku 1001 malam. Padahal, buku itu bukan ditulis di Arab dan oleh orang Arab. Itu terjemahan dari bahasa Persia. Dongeng persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab,” kata Asep.
Buku 1001 malam merupakan buku dongeng berbahasa Persia. Buku dongeng itu ditulis pada abad ke-3 hijriyah. Itu artinya, buku tersebut tidak ditulis pada masa Harun Ar-Rasyid dan Abu Nuwas yang hidup pada abad ke-2 hijriyah.
“Bagaimana mungkin Harun Ar-Rasyid menjadi aktor dengan segala gambaran buruk. Begitu juga dengan Abu Nuwas. Abu Nuwas itu jarang masuk untuk meruntuhkan reputasi Harun Ar-Rasyid,” ucap Asep.
Para pembenci ingin menggambarkan Harun Ar-Rasyid sebagai pemabuk dengan menggunakan tokoh Abu Nuwas. Apalagi banyak puisi-puisi cabul dan berbau maksiat yang dinisbatkan kepada Abu Nuwas.
“Ketika digambarkan Abu Nuwas begitu dekat dengan Harun Ar-Rasyid, dan dikatakan sebagai pemabuk dll. Berarti Harun Ar-Rasyid tidak jauh-jauh dari situ. Padahal itu tidak ada bukti sejarah. Tidak ada data-data sejarah yang menyebutkan itu. Sehingga, itu lebih ke cerita, kayak dongeng,” jelas Asep.
Justru sebaliknya, Harun Ar-Rasyid adalah seorang ahli bahasa. Dia memiliki majelis khusus yang membahas beragam ilmu. Fakta itu yang ingin dilenyapkan dengan membuat dongeng seputar kejenakaan Abu Nuwas kepada Harun Ar-Rasyid.
“Kalau kita mau memberikan penilaian kepada Abu Nuwas tidak semudah yang dibayangkan,” kata Asep.
Puisi Abu Nuwas Menjelang WafatAda satu puisi Abu Nuwas yang ditulis menjelang wafat. Puisi itu menggambarkan sosok Abu Nuwas. Memang, puisi itu ada yang menyebut ditulis oleh Imam Syafi’i, tapi pendapat paling kuat berasal dari Abu Nuwas.
Baca Juga: Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi
Puisi itu berbunyi:
Wahai Tuhanku, dosa-dosaku terlalu besar dan banyak, tapi Aku tahu bahwa ampunan-Mu lebih besar.
Jika hanya orang baik yang boleh berharap kepada-Mu, kepada siapa pelaku maksiat akan berlindung dan memohon ampunan?
Aku berdoa kepada-Mu, seperti yang Kau perintahkan, dengan segala kerendahan dan kehinaanku.
Jika Kau tampik tanganku, lantas siapa yang memiliki kasih-sayang? Hanya harapan yang ada padaku ketika aku berhubungan dengan-Mu dan keindahan ampunan-Mu dan aku pasrah setelah ini.”
(jqf)