home masjid

Keadilan Abu Nawas: Lalat-Lalat yang Membuka Mata Raja

Senin, 28 Juli 2025 - 16:30 WIB
Kisah ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari orang yang berpakaian mewah atau berbicara resmi. Ilustrasi: Matmatrik
LANGIT7.ID-Tak ada yang lebih menyakitkan bagi Abu Nawas selain kehilangan rumah tanpa alasan. Pagi itu, istrinya datang sambil berkacak pinggang, namun bukan karena kesal pada Abu Nawas. Justru ia membawa kabar buruk: rumah mereka dibongkar paksa oleh para pekerja istana.

“Mereka menggali sampai dapur, Abu! Katanya Baginda Raja mimpi ada harta karun di bawah rumah kita,” keluh istrinya dengan mata nyalang.

Namun, alih-alih menemukan emas dan permata, para penggali hanya menemukan tulang ayam sisa semalam dan sandal jepit Abu Nawas yang sudah bolong. Dan Baginda? Tak minta maaf, apalagi ganti rugi.

Sejak itu, Abu Nawas diam. Makanan tak disentuh, lawakan tak keluar, bahkan kucing tetangga yang biasa dipukulnya tiap pagi pun dibiarkan lewat dengan aman. Ia memikirkan balas dendam. Tapi bukan balas dendam biasa. Harus cerdas, harus menghibur, dan tentu saja: harus membuat istana pusing.

Baca juga: Ketika Abu Nawas Menjadikan Humor sebagai Senjata Hukum

Keesokan harinya, saat matahari baru saja menggeliat dari balik kubah masjid, Abu Nawas tersenyum sendiri melihat lalat-lalat mengerubungi makanannya yang sudah basi. “Nah, ini dia!” serunya. “Tolong ambilkan kain penutup dan sebatang besi, istriku!”

Istrinya hanya bisa menggeleng. “Kalau kau gila, sebaiknya gila sekalian.”
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya