home masjid

Menunggangi Hujan Bersama Abu Nawas: Ketika Akal Lebih Tajam dari Kecepatan Kuda Raja

Selasa, 29 Juli 2025 - 16:04 WIB
Kadang, untuk selamat dari hujan kehidupan, kita tak perlu lari kencangcukup duduk dan lindungi hal-hal yang paling penting. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Langit baru saja mulai menggelayut mendung ketika rombongan Raja Harun al-Rasyid meninggalkan istana. Tujuannya: berburu beruang di rimba belantara. Tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian hari itu. Fokus utama adalah seorang lelaki kurus dengan sorban kusut yang tampak cemas di atas kuda paling lamban dari seluruh kuda di kerajaan. Lelaki itu tak lain adalah Abu Nawas.

Sudah menjadi rahasia umum di istana bahwa penyair nyentrik ini punya satu kelemahan: beruang. Dan karena satu insiden beberapa pekan lalu, yang melibatkan Abu Nawas, lemari pusaka istana, dan fatwa yang menggugurkan tanggung jawab semua orang dari kerusakan akibat “ketidaksengajaan”, Raja punya niat pribadi yang belum tersampaikan. Kali ini, Baginda punya rencana: mempermalukan Abu Nawas di tengah hutan.

"Abu Nawas," panggil Baginda, ketika awan gelap mulai menyelimuti langit. Suaranya berat dan penuh arti. "Tahukah mengapa engkau aku panggil?"

Abu Nawas menjawab dengan takzim, seperti biasa. "Ampun Tuanku yang mulia, hamba belum tahu. Tapi jika Tuanku memanggil, tentu karena sesuatu yang sangat penting… atau sangat menggelikan."

Raja mengabaikan komentar terakhir itu. "Kau kuberi kuda lamban, dan kami semua berkuda cepat. Jika hujan turun, kita harus tetap tiba di tempat peristirahatan untuk santap siang dengan pakaian kering. Maka berjuanglah dengan cara masing-masing. Kita berpencar mulai sekarang."

Baca juga: Keadilan Abu Nawas: Lalat-Lalat yang Membuka Mata Raja

Dan benar saja, baru lima langkah mereka berpisah, langit menumpahkan hujan yang lebat seperti air bah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya