Soal Hukum Wanita Haid setelah Thawaf: Ketika Ibnu Abbas Menyanggah Zaid bin Tsabit
Miftah yusufpati
Rabu, 30 Juli 2025 - 16:30 WIB
Dan di situlah letak kekuatan Islam sebagai peradaban ilmu: membuka ruang ijtihad, menjunjung adab debat, dan berpulang pada suara Rasul sebagai kata akhir. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pekan itu, suasana di Tanah Haram masih padat. Jemaah dari berbagai penjuru kembali dari Arafah dan Mina. Sebagian bersiap pulang, sebagian lainnya menyelesaikan thawaf ifadhah,salah satu rukun haji yang tak bisa ditinggalkan.
Di tengah kesibukan itu, sebuah persoalan diajukan kepada Abdullah bin Abbas, ulama muda Quraisy yang dikenal luas akan kecerdasannya. Sekelompok warga Madinah bertanya tentang seorang perempuan yang telah selesai thawaf ifadhah, namun tiba-tiba mengalami haid sebelum meninggalkan Makkah. Bolehkah ia pulang?
“Pergilah dia bersama orang-orang,” jawab Ibnu Abbas mantap.
Namun warga Madinah menolak. “Kami tidak mengambil pendapatmu dan membiarkan perkataan Zaid,” kata mereka, merujuk pada Zaid bin Tsabit, sahabat senior yang juga dikenal sebagai juru tulis wahyu Nabi.
Ibnu Abbas tak gentar. Ia tahu bahwa dalam sejarah Islam awal, perbedaan pandangan antar sahabat bukan hal baru. Ia pun menantang mereka dengan tenang, “Kalau kalian sudah sampai di Madinah, tanyakanlah masalah ini.”
Baca juga: Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran Berdasarkan Pendapat Ibnu Abbas
Menunggu Jawaban di Kota Nabi
Di tengah kesibukan itu, sebuah persoalan diajukan kepada Abdullah bin Abbas, ulama muda Quraisy yang dikenal luas akan kecerdasannya. Sekelompok warga Madinah bertanya tentang seorang perempuan yang telah selesai thawaf ifadhah, namun tiba-tiba mengalami haid sebelum meninggalkan Makkah. Bolehkah ia pulang?
“Pergilah dia bersama orang-orang,” jawab Ibnu Abbas mantap.
Namun warga Madinah menolak. “Kami tidak mengambil pendapatmu dan membiarkan perkataan Zaid,” kata mereka, merujuk pada Zaid bin Tsabit, sahabat senior yang juga dikenal sebagai juru tulis wahyu Nabi.
Ibnu Abbas tak gentar. Ia tahu bahwa dalam sejarah Islam awal, perbedaan pandangan antar sahabat bukan hal baru. Ia pun menantang mereka dengan tenang, “Kalau kalian sudah sampai di Madinah, tanyakanlah masalah ini.”
Baca juga: Pembatasan dalam Menafsirkan Al-Quran Berdasarkan Pendapat Ibnu Abbas
Menunggu Jawaban di Kota Nabi