PTKIS Diminta Jadi Motor Kebangkitan Ilmu di Era Digital, Menag Tegaskan Pentingnya Sinergi Agama dan Teknologi
Tim langit 7
Kamis, 31 Juli 2025 - 13:18 WIB
PTKIS Diminta Jadi Motor Kebangkitan Ilmu di Era Digital, Menag Tegaskan Pentingnya Sinergi Agama dan Teknologi
LANGIT7.ID–Jakarta; Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) untuk mengambil peran strategis dalam membangun peradaban Islam modern yang berbasis digital. Ajakan ini disampaikan saat membuka Seminar Internasional bertajuk “Transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta sebagai Pusat Kajian dan Peradaban Islam Nusantara” di Universitas PTIQ Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Menurut Menag, penguasaan teknologi merupakan kunci kemajuan perguruan tinggi ke depan. Karena itu, PTKIS diminta tidak hanya memahami transformasi digital, tapi juga menjadi pionir perubahan berbasis nilai keislaman.
“Seminar ini membahas hal yang sangat strategis. Saya berharap tema ini bisa diturunkan menjadi langkah-langkah implementatif di masing-masing kampus,” ujar Menag.
Dalam paparannya, Nasaruddin menyinggung bagaimana Islam pernah mengalami masa keemasan ketika ilmu dan iman berjalan seiring. Periode antara abad ke-6 hingga ke-12 Masehi menjadi fondasi kuat peradaban Islam yang menyatukan agama dan pengetahuan secara harmonis.
“Wahyu pertama yang turun adalah Iqra’, bacalah. Ini menjadi simbol lahirnya peradaban baru, di mana sains dan agama bersatu. Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd tidak hanya ahli di bidang agama, tapi juga di sains dan filsafat,” jelasnya.
Namun menurutnya, sejak jatuhnya Baghdad akibat invasi Mongol pada abad ke-13, fase puncak itu mulai meredup dan tak lagi menunjukkan geliat yang sama. Kekuasaan Turki Usmani yang menggantikan dominasi peradaban Islam cenderung lebih militeristik dan menjauh dari semangat keilmuan universal.
“Setelah itu, peradaban Islam cenderung mengalami stagnasi. Turki Usmani yang menjadi pusat peradaban Islam kala itu, lebih fokus pada militer dan politik. Kajian keilmuan menjadi parsial dan terlalu didominasi fikih. Sains nyaris tidak berkembang,” terangnya.
Menurut Menag, penguasaan teknologi merupakan kunci kemajuan perguruan tinggi ke depan. Karena itu, PTKIS diminta tidak hanya memahami transformasi digital, tapi juga menjadi pionir perubahan berbasis nilai keislaman.
“Seminar ini membahas hal yang sangat strategis. Saya berharap tema ini bisa diturunkan menjadi langkah-langkah implementatif di masing-masing kampus,” ujar Menag.
Dalam paparannya, Nasaruddin menyinggung bagaimana Islam pernah mengalami masa keemasan ketika ilmu dan iman berjalan seiring. Periode antara abad ke-6 hingga ke-12 Masehi menjadi fondasi kuat peradaban Islam yang menyatukan agama dan pengetahuan secara harmonis.
“Wahyu pertama yang turun adalah Iqra’, bacalah. Ini menjadi simbol lahirnya peradaban baru, di mana sains dan agama bersatu. Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rusyd tidak hanya ahli di bidang agama, tapi juga di sains dan filsafat,” jelasnya.
Namun menurutnya, sejak jatuhnya Baghdad akibat invasi Mongol pada abad ke-13, fase puncak itu mulai meredup dan tak lagi menunjukkan geliat yang sama. Kekuasaan Turki Usmani yang menggantikan dominasi peradaban Islam cenderung lebih militeristik dan menjauh dari semangat keilmuan universal.
“Setelah itu, peradaban Islam cenderung mengalami stagnasi. Turki Usmani yang menjadi pusat peradaban Islam kala itu, lebih fokus pada militer dan politik. Kajian keilmuan menjadi parsial dan terlalu didominasi fikih. Sains nyaris tidak berkembang,” terangnya.