Di Awal Islam, Perbedaan Bukan Ancaman, tapi Jalan Pencerahan
Miftah yusufpati
Jum'at, 01 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Tak semua yang tampak ketat adalah kebenaran, dan tak semua yang longgar berarti kompromi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di Arafah, seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah bin Umar, sahabat senior yang dikenal ketat memegang sunnah, soal urutan thawaf dan wuquf. "Bolehkah aku thawaf di Baitullah sebelum mendatangi Arafah?" tanyanya. Ibn Umar menjawab singkat, “Boleh.”
Sang penanya mengerutkan dahi. “Tapi Ibnu Abbas melarangnya.”
Ibn Umar seketika menegakkan tubuhnya. “Rasulullah saw. pernah thawaf sebelum wuquf. Kau mau ikut sunnah Rasul atau perkataan Ibnu Abbas?” (HR Muslim)
Itulah potret perbedaan yang hidup di generasi awal Islam. Bukan sekadar beda pendapat, tapi beda cara menimbang mana yang harus diikuti: dalil, akal sehat, atau otoritas seseorang. Dalam banyak riwayat, para sahabat besar kerap saling bersilang pandangan. Namun yang lebih menarik dari perbedaan mereka adalah semangatnya: mencari kemudahan, menolak penyempitan, dan tidak sembarang menjadikan manusia sebagai patokan mutlak.
Baca juga: Sengkarut Ijtihad Dua Sahabat Nabi: Ketika Ibnu Umar Menyanggah Ibnu Abbas
Ali bin Abi Thalib pernah berselisih pendapat dengan Utsman bin Affan, khalifah ketiga, soal haji tamattu’. Ketika Utsman melarang model haji yang digabung dengan umrah itu, Ali menolak keras. “Apakah kau hendak melarang sesuatu yang pernah dilakukan Rasulullah?” katanya. Ia tetap berihram tamattu’ meski berbeda pandangan dengan penguasa. (HR Bukhari dan Muslim)
Ibnu Abbas pun demikian. Di tengah warga Madinah yang lebih memilih pendapat Zaid bin Tsabit soal wanita haid yang hendak pulang dari haji, ia mengingatkan mereka agar tidak menolak dalil yang sahih hanya karena fanatik pada satu tokoh. Ia bahkan menyarankan mereka bertanya kepada Ummu Sulaim, yang pernah mendengar langsung sabda Nabi soal Shafiyyah dalam kondisi serupa. Ternyata jawaban Ummu Sulaim membenarkan pendapat Ibnu Abbas. (HR Bukhari dan Muslim)
Sang penanya mengerutkan dahi. “Tapi Ibnu Abbas melarangnya.”
Ibn Umar seketika menegakkan tubuhnya. “Rasulullah saw. pernah thawaf sebelum wuquf. Kau mau ikut sunnah Rasul atau perkataan Ibnu Abbas?” (HR Muslim)
Itulah potret perbedaan yang hidup di generasi awal Islam. Bukan sekadar beda pendapat, tapi beda cara menimbang mana yang harus diikuti: dalil, akal sehat, atau otoritas seseorang. Dalam banyak riwayat, para sahabat besar kerap saling bersilang pandangan. Namun yang lebih menarik dari perbedaan mereka adalah semangatnya: mencari kemudahan, menolak penyempitan, dan tidak sembarang menjadikan manusia sebagai patokan mutlak.
Baca juga: Sengkarut Ijtihad Dua Sahabat Nabi: Ketika Ibnu Umar Menyanggah Ibnu Abbas
Ali bin Abi Thalib pernah berselisih pendapat dengan Utsman bin Affan, khalifah ketiga, soal haji tamattu’. Ketika Utsman melarang model haji yang digabung dengan umrah itu, Ali menolak keras. “Apakah kau hendak melarang sesuatu yang pernah dilakukan Rasulullah?” katanya. Ia tetap berihram tamattu’ meski berbeda pandangan dengan penguasa. (HR Bukhari dan Muslim)
Ibnu Abbas pun demikian. Di tengah warga Madinah yang lebih memilih pendapat Zaid bin Tsabit soal wanita haid yang hendak pulang dari haji, ia mengingatkan mereka agar tidak menolak dalil yang sahih hanya karena fanatik pada satu tokoh. Ia bahkan menyarankan mereka bertanya kepada Ummu Sulaim, yang pernah mendengar langsung sabda Nabi soal Shafiyyah dalam kondisi serupa. Ternyata jawaban Ummu Sulaim membenarkan pendapat Ibnu Abbas. (HR Bukhari dan Muslim)