home masjid

Refleksi Al-Qur'an atas Relasi Iman, Amal, dan Balasan dalam Kehidupan Modern

Sabtu, 02 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Al-Quran mengajarkan bahwa nilai tertinggi amal bukan di mata manusia, tapi di hadapan Allah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di tengah arus dunia yang penuh persaingan dan pengagungan materi, manusia kerap menilai kehidupan hanya dari untung-rugi duniawi. Dalam pandangan seperti itu, amal baik kerap dinilai hanya sejauh mendatangkan manfaat pragmatis atau citra sosial. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan paradigma yang berbeda: amal saleh lahir dari iman, dan nilai tertingginya adalah ketulusan, bukan pujian.

Surat Ali Imran ayat 190-195 menjadi pintu masuk refleksi atas hal ini. Allah berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal..."

Ayat ini bukan sekadar seruan untuk mengamati gejala alam, tapi ajakan kontemplatif untuk menyadari keteraturan kosmis sebagai tanda kekuasaan Ilahi. Dalam Tafsir al-Misbah, Prof Dr M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa "memikirkan ciptaan Allah" harus dilandasi dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.

Menurutnya, berpikir tentang langit dan bumi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk dzikir yang menyatu dengan amal. “Zikir tanpa pikir bisa menjadi kering, sementara pikir tanpa zikir bisa kehilangan arah,” tulis Quraish.

Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke 80(1) Panti Asuhan dan Anak Asuhnya Bagaimana Nasibmu Kini?

Hal serupa ditegaskan oleh Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir. Ia menyebut bahwa ayat-ayat tersebut menunjukkan kesempurnaan iman yang tak hanya mengandalkan hati dan lisan, tapi juga akal. “Tanda-tanda Tuhan dalam semesta ini hanya akan tampak bagi orang yang memadukan zikir dan tafakur,” tulisnya. Baginya, tafakur terhadap ciptaan Allah adalah puncak dari ibadah intelektual seorang mukmin.

Kesalehan yang Setara
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya