home edukasi & pesantren

Sejarah Shalawat Burdah: Ditulis Imam Busyiri saat Lumpuh, Sembuh Setelah Bermimpi Jumpa Nabi

Senin, 04 Oktober 2021 - 12:37 WIB
Kaligrafi yang bertuliskan potongan syair Qasidah Burdah (foto: istimewa)
Shalawat Burdah merupakan syair yang berisi puja-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Syair ini sarat pesan moral nilai spiritual dan semangat perjuangan yang sering dibaca dalam peringatan maulid nabi, diba’an rutin yang dilakukan pondok salaf maupun masyarakat.

Shalawat Burdah juga dikenal sebagai Qasidah Burdah. Syair ini dikarang oleh Imam Al-Busyiri. Ia ulama yang memiliki nama lengkap Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid al-Busyiri itu lahir di Dallas, Maroko pada tahun 609 Hijriah dan dibesarkan di Busyir, Mesir.

Sejak kecil ia mendapat pendidikan Al-Qur’an dari sang ayah. Ia juga merupakan murid seorang sufi besar bernama Abdul Abbas al-Mursi, murid kesayangan pendiri Tarekat Syadziliyah Imam Abu Hasan As-Syadziliy. Setelah belajar ilmu kesustraan Arab di Kairo, dia menjelma menjadi seorang sastrawan dan penyair ulung.

Al-Busyiri diberi gelar ‘Sayyidul Maddah’ (pemimpin para pemuji Rasulullah). Ini karena shalawat burdah dianggap sebagai puncak karya sastra dalam memuji Rasulullah.

Mengutip laman ibadah.co.id, Al-Busyiri menulis syair burdah saat tengah menderita sakit lumpuh. Dia mengisi kekosongan waktu dengan harapan bisa mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW. Ia menulis sajak-sajak indah tentang sosok beliau, yang pada akhirnya sering dilantunkan hingga kini dalam kegiatan keagamaan seperti diba’an dan muslimatan.

Meski seorang sastrawan dan penyair, ia masih menghadapi berbagai rintangan dalam mengarang dan menyusun syair burdah. Suatu ketika, saat mengarang syair itu, ia berhenti pada kalimat ‘Fa mablaghul ilmi fihi annahu basyarun’.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
shalawat sejarah shalawat maulid nabi muhammad saw
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya