Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (4): Mengapa Pernikahan Dini Masih Terjadi? Dimana Akar Masalahnya?
Dwi sasongko
Selasa, 05 Agustus 2025 - 05:00 WIB
Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (4): Mengapa Pernikahan Dini Masih Terjadi? Dimana Akar Masalahnya?
LANGIT7.ID- Di saat Indonesia tengah merayakan HUT Kemerdekaan yang ke 80, ada baiknya melihat sisi sisi lain yang dirasakan tertinggal atau jauh dari pantauan. Dengan cara ini, kita sebagai anak bangsa akan mudah tergugah dan turut serta dalam upaya perbaikan.
Seperti femonena yang masih sering terjadi di tengah masyarakat di saat Indonesia sedang menuju proses transformasi menuju negara modern, ternyata masih saja ada peristiwa yang sangat paradok: pernikahan dini.
Ternyata peristiwa pernikahan dini, dipilih karena sebagian keluarga melihat sebagai jalan pintas untuk meringankan beban ekonomi dan sosial anak. Namun sayangnya, pilihan ini ternyata bukan solusi, tetapi justru berisiko munculnya masalah baru yang lebih kompleks dan berkepanjangan.
Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(3) Panti Asuhan Harus Bisa Cetak Anak Asuh Yang Mandiri
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Bambang Suryadi, Ph.D mengungkapkan hal tersebut menanggapi fenomena masih maraknya pernikahan dini di Indonesia. “Secara umum, hasil penelitian menunjukkan ada kecenderung menunda pernikahan demi mengejar karier dan kematangan pribadi. Namun di sisi lain, fenomena pernikahan dini masih terus terjadi, utamanya karena alasan ekonomi dan rendahnya akses terhadap pendidikan,” jelas
Bambang kepada Langit7.id.
Lebih jauh, Bambang menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar upacara seremonial, melainkan keputusan besar untuk membangun masa depan bersama. Tanpa adanya kematangan emosional, spiritual, dan sosial, pernikahan yang dijalani cenderung berujung pada persoalan yang serius. “Pernikahan dini sering kali dilakukan tanpa kesiapan psikologis. Anak-anak yang menikah di usia muda belum mampu mengelola emosinya, dan ini bisa memicu konflik dalam rumah tangga. Dalam banyak kasus, hal-hal remeh bisa menjadi pemicu besar karena tak ada kemampuan meredam atau menyelesaikan masalah secara dewasa,” ungkap guru besar dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Konseling ini.
Seperti femonena yang masih sering terjadi di tengah masyarakat di saat Indonesia sedang menuju proses transformasi menuju negara modern, ternyata masih saja ada peristiwa yang sangat paradok: pernikahan dini.
Ternyata peristiwa pernikahan dini, dipilih karena sebagian keluarga melihat sebagai jalan pintas untuk meringankan beban ekonomi dan sosial anak. Namun sayangnya, pilihan ini ternyata bukan solusi, tetapi justru berisiko munculnya masalah baru yang lebih kompleks dan berkepanjangan.
Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(3) Panti Asuhan Harus Bisa Cetak Anak Asuh Yang Mandiri
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Bambang Suryadi, Ph.D mengungkapkan hal tersebut menanggapi fenomena masih maraknya pernikahan dini di Indonesia. “Secara umum, hasil penelitian menunjukkan ada kecenderung menunda pernikahan demi mengejar karier dan kematangan pribadi. Namun di sisi lain, fenomena pernikahan dini masih terus terjadi, utamanya karena alasan ekonomi dan rendahnya akses terhadap pendidikan,” jelas
Bambang kepada Langit7.id.
Lebih jauh, Bambang menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar upacara seremonial, melainkan keputusan besar untuk membangun masa depan bersama. Tanpa adanya kematangan emosional, spiritual, dan sosial, pernikahan yang dijalani cenderung berujung pada persoalan yang serius. “Pernikahan dini sering kali dilakukan tanpa kesiapan psikologis. Anak-anak yang menikah di usia muda belum mampu mengelola emosinya, dan ini bisa memicu konflik dalam rumah tangga. Dalam banyak kasus, hal-hal remeh bisa menjadi pemicu besar karena tak ada kemampuan meredam atau menyelesaikan masalah secara dewasa,” ungkap guru besar dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Konseling ini.