Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home community detail berita

Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (4): Mengapa Pernikahan Dini Masih Terjadi? Dimana Akar Masalahnya?

dwi sasongko Selasa, 05 Agustus 2025 - 05:00 WIB
Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (4): Mengapa Pernikahan Dini Masih Terjadi? Dimana Akar Masalahnya?
LANGIT7.ID- Di saat Indonesia tengah merayakan HUT Kemerdekaan yang ke 80, ada baiknya melihat sisi sisi lain yang dirasakan tertinggal atau jauh dari pantauan. Dengan cara ini, kita sebagai anak bangsa akan mudah tergugah dan turut serta dalam upaya perbaikan.

Seperti femonena yang masih sering terjadi di tengah masyarakat di saat Indonesia sedang menuju proses transformasi menuju negara modern, ternyata masih saja ada peristiwa yang sangat paradok: pernikahan dini.

Ternyata peristiwa pernikahan dini, dipilih karena sebagian keluarga melihat sebagai jalan pintas untuk meringankan beban ekonomi dan sosial anak. Namun sayangnya, pilihan ini ternyata bukan solusi, tetapi justru berisiko munculnya masalah baru yang lebih kompleks dan berkepanjangan.

Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(3) Panti Asuhan Harus Bisa Cetak Anak Asuh Yang Mandiri

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Bambang Suryadi, Ph.D mengungkapkan hal tersebut menanggapi fenomena masih maraknya pernikahan dini di Indonesia. “Secara umum, hasil penelitian menunjukkan ada kecenderung menunda pernikahan demi mengejar karier dan kematangan pribadi. Namun di sisi lain, fenomena pernikahan dini masih terus terjadi, utamanya karena alasan ekonomi dan rendahnya akses terhadap pendidikan,” jelas
Bambang kepada Langit7.id.

Lebih jauh, Bambang menekankan bahwa pernikahan bukan sekadar upacara seremonial, melainkan keputusan besar untuk membangun masa depan bersama. Tanpa adanya kematangan emosional, spiritual, dan sosial, pernikahan yang dijalani cenderung berujung pada persoalan yang serius. “Pernikahan dini sering kali dilakukan tanpa kesiapan psikologis. Anak-anak yang menikah di usia muda belum mampu mengelola emosinya, dan ini bisa memicu konflik dalam rumah tangga. Dalam banyak kasus, hal-hal remeh bisa menjadi pemicu besar karena tak ada kemampuan meredam atau menyelesaikan masalah secara dewasa,” ungkap guru besar dalam bidang Psikologi Pendidikan dan Konseling ini.

Ia menambahkan, menikah juga merupakan amanah untuk membina keturunan. Tanpa kesiapan yang matang, pasangan muda cenderung gagal memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. “Menikah itu investasi jangka panjang, bukan untuk memuaskan hasrat sesaat atau kebutuhan biologis manusia. Tapi itu merupakan investasi jangka panjang untuk generasi kita melalui pendidikan. Jika pasangan tidak siap, bagaimana mungkin mereka bisa menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka?” katanya.

Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80(2): Pendanaan Panti Asuhan Masih Serabutan, Negara Seharusnya Hadir

Lebih lanjut, Prof. Bambang menyoroti dampak sosial dari pernikahan dini. Mereka yang menikah tanpa kematangan sosial sering kali menarik diri dari lingkungan sekitar. Kurangnya komitmen sosial membuat pasangan muda tidak mampu berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. “Jika tak siap secara sosial, pasangan akan cenderung menyendiri dan tidak terlibat dalam komunitas. Ini memperparah kondisi mental dan emosional mereka, serta memperlemah kontrol sosial yang seharusnya ada di masyarakat,” ujar dia.

Kondisi inilah yang menurutnya turut menyumbang pada maraknya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). “Saat aspek emosional dan spiritual belum matang, konflik kecil saja bisa berubah jadi kekerasan,” tegasnya.

Ketika ditanya siapa yang paling bertanggung jawab dalam mencegah pernikahan dini, Bambang menyebut peran individu dan keluarga sebagai yang utama. Sehingga peran orang tua sangat penting. Menurut dia, orang tua harus mampu mengarahkan anak-anak mereka agar menikah pada waktu yang tepat, bukan karena desakan ekonomi atau tekanan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa pernikahan bukan hanya urusan dua orang, tetapi juga melibatkan keluarga besar, termasuk calon mertua. Karena itu, rumah tangga sebagai institusi pendidikan pertama sangat berperan sebagai garda terdepan dalam pencegahan.

Baca juga: Refleksi HUT Kemerdekaan RI ke 80(1) Panti Asuhan dan Anak Asuhnya Bagaimana Nasibmu Kini?

‘’Peran tokoh masyarakat dan pemerintah tentu juga harus. Tapi sekali lagi, preventifnya itu ada pada keluarga karena anak anak itu hidup di lingkungan keluarga," jelasnya.

Bambang mengatakan dengan sebuah perumpamaan bijak: ‘’It’s easy to build a house, but not a home.” Menurutnya, membangun rumah tangga jauh lebih kompleks daripada membangun rumah secara fisik. “Kalau kita punya uang, kita bisa beli bahan bangunan dan membangun rumah sesuai keinginan. Tapi rumah tangga tak bisa dibangun hanya dengan materi. Dibutuhkan kesiapan psikologis, mental, dan spiritual,” tandasnya. Sehingga anak bisa membangun masa depan dan memiliki karier yang bagus.

Kasus pernikahan dini banyak terjadi. Tapi ini ada kisah true story. Ada anak perempuan yang tidak mau dijodohkan karena mereka memiliki mimpi. Salah satunya Cinthya Noor Hidayati. Menolak dijodohkan, akhirnya Cinthya Noor Hidayati mengerahkan keberanian untuk meninggalkan Kudus, tanah kelahirannya dan bekerja sebagai terapis spa di Jakarta.

Refleksi HUT Kemerdekaan RI Ke 80 (4): Mengapa Pernikahan Dini Masih Terjadi? Dimana Akar Masalahnya?

Bermodalkan keterampilan yang ia peroleh selama bersekolah di SMK PGRI 1 Kudus jurusan Beauty and Spa, Cinthya berhasil menjadi terapis spa profesional yang berintegritas dan memiliki banyak klien. Tak mudah jalan yang harus ia lalui untuk meraih mimpi, tetapi Cinthya yakin ketangguhan hasil tempaan pendidikan membantunya menaklukkan segala rintangan. Lulus sekolah saya langsung dapat panggilan kerja di Jakarta. ‘’Sempat ada yang bilang ngapain sih merantau, perempuan lulus sekolah menikah saja. Saya nggak tanggepin, biar saya buktikan saja. Saya justru lebih mikirin dapat izin orang tua dan biaya berangkat ke Jakarta,’’ kata Cinthya dalam Youtube Srikandi Vokasi. Setelah dapat izin orang tua, dia pun berangkat ke Jakarta. Atas perjuanganya, kini dia menjaid therapist profesional yang berhasil di Jakarta.

Seperti halnya Djarum, sejak tahun 2011 Bakti Pendidikan Djarum Foundation secara konsisten telah memberikan perhatian khusus terhadap Peningkatan Kualitas Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hingga saat ini, Djarum Foundation telah membina 18 SMK dengan 20 kompetensi keahlian di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kompetensi keahlian yang dibina meliputi Rekayasa, Maritim, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif. Inisiatif yang Djarum Foundation lakukan dimulai dengan: Perbaikan kurikulum, Pelatihan guru, Bantuan infrastruktur, Pengembangan ‘teaching factory’, yaitu suatu sistem pembelajaran dimana siswa belajar dengan cara berkarya sesuai dengan tuntutan pasar dan industri.

Hal yang serupa Kementerian Agama (Kemenag) melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) telah berupaya menekan angka pernikahan dini. Mengutip indonesia.go.id, Program BRUS digelar secara masif di sekolah-sekolah dan madrasah, melibatkan berbagai pihak mulai dari penyuluh agama, petugas Kantor Urusan Agama (KUA), hingga organisasi mitra yang bergerak dalam isu ketahanan keluarga dan perlindungan anak.

Dalam tiga tahun terakhir, angka perkawinan anak di Indonesia menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan data Kemenag, pada 2022 tercatat 8.804 pasangan di bawah usia 19 tahun menikah. Angka ini turun menjadi 5.489 pasangan pada 2023, dan kembali menurun menjadi 4.150 pasangan di tahun 2024. Meskipun secara data ada trend menurun, tetap semua elemen bangsa memiliki tanggungjawab moral dalam pencegahan pernikahan dini (Bersambung)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)