Kisah Hikmah: Tawasul dengan Amal Saleh Adalah Syariat yang Dibenarkan
Miftah yusufpati
Senin, 11 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Bertaqarrublah kepada-Nya dengan mentaati-Nya dan beramal dengan sesuatu yang Dia ridhai. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di suatu masa jauh sebelum umat Nabi Muhammad ﷺ, tiga orang lelaki melakukan perjalanan panjang. Senja mulai merayap ketika hujan mengguyur, memaksa mereka mencari tempat berteduh. Sebuah gua di kaki gunung menjadi pilihan. Mereka masuk, melepaskan lelah, berharap malam akan berlalu tanpa gangguan.
Namun takdir berkata lain. Sebongkah batu raksasa tiba-tiba meluncur dari lereng gunung dan menutup rapat pintu gua. Gelap. Udara menjadi pengap. Upaya mendorong batu hanya menyisakan sia-sia.
Mereka saling berpandangan. Salah satu dari mereka berkata, “Kalian tidak akan selamat dari batu ini kecuali dengan berdoa kepada Allah melalui amal saleh kalian.” Maka, satu per satu mereka mengangkat tangan, menghadirkan kembali kenangan amal terbaik yang pernah mereka lakukan, semata karena Allah.
Yang pertama bercerita tentang bakti kepada kedua orang tuanya. Setiap malam, ia memastikan mereka minum terlebih dahulu sebelum anak-anaknya atau hewan ternaknya. Suatu hari ia pulang larut, mendapati keduanya tertidur. Ia tetap berdiri menunggu hingga fajar, segelas susu di tangannya, sementara anak-anaknya menangis kelaparan di kakinya. “Ya Allah,” doanya lirih, “jika aku melakukan ini demi wajah-Mu, lepaskanlah kami.” Batu itu bergeser sedikit, tapi belum cukup untuk keluar.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Bayi dalam Buaian yang Berbicara
Yang kedua berkisah tentang cinta yang hampir menyeretnya ke jurang dosa. Ia pernah mencintai sepupunya dengan sangat. Saat musim paceklik, sang wanita datang meminta bantuan. Ia memberinya 120 dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya. Saat nyaris terjerumus, sang wanita berbisik, “Bertakwalah kepada Allah, cincin tidak boleh dilepas kecuali oleh pemilik yang sah.” Hatinya bergetar. Ia pun meninggalkannya—beserta seluruh emas yang telah diberikan. “Ya Allah, jika aku melakukan ini demi wajah-Mu, lepaskanlah kami.” Batu bergeser dua pertiga, masih belum cukup untuk keluar.
Yang ketiga menceritakan kejujurannya sebagai majikan. Ia pernah menyewa para pekerja dan membayar semuanya, kecuali satu orang yang pergi sebelum menerima upahnya. Uang itu ia investasikan hingga berkembang menjadi kawanan onta, sapi, kambing, dan budak. Saat pekerja itu kembali menagih, ia menyerahkan seluruh hasil investasi itu. Pekerja itu terkejut, mengira ia sedang bercanda. Tapi ia bersumpah, “Ini benar milikmu.” Pekerja itu mengambil semuanya, tanpa tersisa. “Ya Allah, jika aku melakukan ini demi wajah-Mu, lepaskanlah kami.” Batu itu pun terbelah, dan mereka keluar berjalan menuju cahaya.
Namun takdir berkata lain. Sebongkah batu raksasa tiba-tiba meluncur dari lereng gunung dan menutup rapat pintu gua. Gelap. Udara menjadi pengap. Upaya mendorong batu hanya menyisakan sia-sia.
Mereka saling berpandangan. Salah satu dari mereka berkata, “Kalian tidak akan selamat dari batu ini kecuali dengan berdoa kepada Allah melalui amal saleh kalian.” Maka, satu per satu mereka mengangkat tangan, menghadirkan kembali kenangan amal terbaik yang pernah mereka lakukan, semata karena Allah.
Yang pertama bercerita tentang bakti kepada kedua orang tuanya. Setiap malam, ia memastikan mereka minum terlebih dahulu sebelum anak-anaknya atau hewan ternaknya. Suatu hari ia pulang larut, mendapati keduanya tertidur. Ia tetap berdiri menunggu hingga fajar, segelas susu di tangannya, sementara anak-anaknya menangis kelaparan di kakinya. “Ya Allah,” doanya lirih, “jika aku melakukan ini demi wajah-Mu, lepaskanlah kami.” Batu itu bergeser sedikit, tapi belum cukup untuk keluar.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Bayi dalam Buaian yang Berbicara
Yang kedua berkisah tentang cinta yang hampir menyeretnya ke jurang dosa. Ia pernah mencintai sepupunya dengan sangat. Saat musim paceklik, sang wanita datang meminta bantuan. Ia memberinya 120 dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya. Saat nyaris terjerumus, sang wanita berbisik, “Bertakwalah kepada Allah, cincin tidak boleh dilepas kecuali oleh pemilik yang sah.” Hatinya bergetar. Ia pun meninggalkannya—beserta seluruh emas yang telah diberikan. “Ya Allah, jika aku melakukan ini demi wajah-Mu, lepaskanlah kami.” Batu bergeser dua pertiga, masih belum cukup untuk keluar.
Yang ketiga menceritakan kejujurannya sebagai majikan. Ia pernah menyewa para pekerja dan membayar semuanya, kecuali satu orang yang pergi sebelum menerima upahnya. Uang itu ia investasikan hingga berkembang menjadi kawanan onta, sapi, kambing, dan budak. Saat pekerja itu kembali menagih, ia menyerahkan seluruh hasil investasi itu. Pekerja itu terkejut, mengira ia sedang bercanda. Tapi ia bersumpah, “Ini benar milikmu.” Pekerja itu mengambil semuanya, tanpa tersisa. “Ya Allah, jika aku melakukan ini demi wajah-Mu, lepaskanlah kami.” Batu itu pun terbelah, dan mereka keluar berjalan menuju cahaya.