Kisah Kocak Abu Nawas tentang Kompetisi Mimpi Paling Indah
Miftah yusufpati
Rabu, 13 Agustus 2025 - 16:00 WIB
Abu Nawas menunjukkan bahwa spiritualitas sejati bukan sekadar simbol, tapi menyatu dengan akhlak dan kebijaksanaan dalam bertindak. Ilustarsi: Ist
LANGIT7.ID-Di suatu sore yang cerah, ketika burung-burung bersiul santai dan langit sedang malas mendung, datanglah dua orang asing ke rumah Abu Nawas. Satunya mengenakan jubah putih dengan kalung manik-manik kayu menggantung di leher, satunya lagi berkain kuning, membawa tasbih dan senyum licik. Mereka adalah seorang Pendeta dan seorang Yogis, dua tokoh spiritual lintas agama yang tiba-tiba ingin... bersekongkol.
“Wahai Abu Nawas,” kata si Yogis membuka percakapan setelah Abu Nawas selesai salat Dhuha, “kami ingin mengajakmu dalam sebuah perjalanan suci. Bukan sembarang perjalanan, ini spiritual journey. Kau tahu, yang melibatkan renungan, penderitaan, dan lapar.”
“Ah, lapar? Kalau lapar, itu tiap hari,” jawab Abu Nawas polos. “Tapi baiklah, kalau demi kebajikan, aku ikut.”
Esoknya mereka bertemu di warung teh, tak sarapan, tak membawa bekal, dan tentu saja tak membawa dompet. Ketiganya berangkat dengan penampilan paling religius yang bisa dibayangkan: Pendeta dengan jubah salib, Yogis dengan kain kuning semata kaki, dan Abu Nawas dengan jubah Sufi... dan sandal jepit.
Baca juga: Kisah Tongkat Ajaib Abu Nawas
Di tengah perjalanan, rasa lapar mulai menari-nari di perut mereka. Maka seperti sudah direncanakan, Pendeta berkata, “Wahai Abu Nawas, karena kami sedang berpuasa dan hendak melakukan kebaktian, bagaimana kalau engkau saja yang mencari derma?”
“Baik,” jawab Abu Nawas. Dalam hatinya, ia mulai curiga: Kenapa aku yang disuruh kerja keras sementara mereka berzikir kenyang?
“Wahai Abu Nawas,” kata si Yogis membuka percakapan setelah Abu Nawas selesai salat Dhuha, “kami ingin mengajakmu dalam sebuah perjalanan suci. Bukan sembarang perjalanan, ini spiritual journey. Kau tahu, yang melibatkan renungan, penderitaan, dan lapar.”
“Ah, lapar? Kalau lapar, itu tiap hari,” jawab Abu Nawas polos. “Tapi baiklah, kalau demi kebajikan, aku ikut.”
Esoknya mereka bertemu di warung teh, tak sarapan, tak membawa bekal, dan tentu saja tak membawa dompet. Ketiganya berangkat dengan penampilan paling religius yang bisa dibayangkan: Pendeta dengan jubah salib, Yogis dengan kain kuning semata kaki, dan Abu Nawas dengan jubah Sufi... dan sandal jepit.
Baca juga: Kisah Tongkat Ajaib Abu Nawas
Di tengah perjalanan, rasa lapar mulai menari-nari di perut mereka. Maka seperti sudah direncanakan, Pendeta berkata, “Wahai Abu Nawas, karena kami sedang berpuasa dan hendak melakukan kebaktian, bagaimana kalau engkau saja yang mencari derma?”
“Baik,” jawab Abu Nawas. Dalam hatinya, ia mulai curiga: Kenapa aku yang disuruh kerja keras sementara mereka berzikir kenyang?