Bubur Haris dan Tipu Muslihat Abu Nawas
Miftah yusufpati
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Di balik kelakar Abu Nawas, tersimpan pesan tajam soal kekuasaan yang buta karena laporan palsu, pentingnya pemimpin turun langsung ke rakyat, dan kekuatan akal sehat. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari, Abu Nawas baru saja keluar dari istana setelah memenuhi undangan Baginda Raja. Tapi, alih-alih langsung pulang ke rumah, ia memilih menyusuri perkampungan orang-orang badui. Ini bukan hal aneh, sebab Abu memang punya kebiasaan nyeleneh: belajar adat istiadat sambil keluyuran.
Di tengah perjalanan, Abu Nawas melihat sebuah rumah besar dari mana terdengar suara riuh rendah seperti pasar malam. Penasaran, ia mendekat dan mendapati bahwa tempat itu adalah warung bubur. Tapi bukan sembarang bubur—namanya bubur haris, khas petani badui. Lelah berjalan, Abu tidak masuk, melainkan memilih beristirahat di bawah pohon rindang di pinggiran desa. Angin sejuk, pohon rindang, dan perut kenyang membuat Abu tak sadar tertidur.
Brak!
Ia terbangun dengan kepala benjol dan tubuh terkapar di lantai tanah. Saat membuka mata, Abu mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan pengap penuh jeruji besi. "Astaghfirullah! Penjara darimana ini?"
Tak lama, seorang lelaki badui bertubuh raksasa muncul dengan piring bubur di tangan. "Makan ini!" katanya galak.
"Sebentar... Kenapa aku di sini?" tanya Abu waspada.
"Kau akan kami sembelih. Dagingmu akan kami campur dalam bubur haris."
Di tengah perjalanan, Abu Nawas melihat sebuah rumah besar dari mana terdengar suara riuh rendah seperti pasar malam. Penasaran, ia mendekat dan mendapati bahwa tempat itu adalah warung bubur. Tapi bukan sembarang bubur—namanya bubur haris, khas petani badui. Lelah berjalan, Abu tidak masuk, melainkan memilih beristirahat di bawah pohon rindang di pinggiran desa. Angin sejuk, pohon rindang, dan perut kenyang membuat Abu tak sadar tertidur.
Brak!
Ia terbangun dengan kepala benjol dan tubuh terkapar di lantai tanah. Saat membuka mata, Abu mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan pengap penuh jeruji besi. "Astaghfirullah! Penjara darimana ini?"
Tak lama, seorang lelaki badui bertubuh raksasa muncul dengan piring bubur di tangan. "Makan ini!" katanya galak.
"Sebentar... Kenapa aku di sini?" tanya Abu waspada.
"Kau akan kami sembelih. Dagingmu akan kami campur dalam bubur haris."