home masjid

Kebohongan Paling Berbahaya: Saat Lidah Menyalib Allah Taala

Kamis, 21 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Berdusta atas nama Allah dan Rasul adalah bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah majelis pengajian di Depok, seorang ustaz muda melontarkan pernyataan yang membuat jamaah terperangah: “Jangan sekali-kali berdusta atas nama Allah. Itu lebih berat daripada dosa apa pun.” Ucapannya seakan menyambar, mengingatkan bahwa dusta bukan sekadar kebohongan antar-manusia, tapi bisa menjelma menjadi penistaan terhadap Sang Pencipta.

Al-Qur’an menegaskan dengan bahasa tajam: “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (QS. al-An‘am [6]: 21).

Ayat itu, menurut Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, bukan sekadar peringatan, melainkan vonis teologis: mereka yang berani mengada-ada atas nama Tuhan, boleh jadi mendapat sedikit kesenangan dunia, tapi kesudahannya hanya siksa dan kehinaan.

Baca juga: Perut Berbohong dan Jiwa Menangis: Pesan Nabi tentang Sakit yang Tak Tampak di Luar

Kebohongan yang Membawa Kufur

Imam Ibnul Jauzi, ulama besar abad ke-12, menulis dengan nada keras. Berdusta atas nama Allah dan Rasul, katanya, adalah bentuk kekafiran yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Imam adz-Dzahabi, dalam kitab al-Kabâ’ir—kompilasi dosa-dosa besar—mencatatnya sebagai salah satu yang paling berbahaya: menukar halal menjadi haram, dan haram menjadi halal, seolah-olah Tuhan menitipkan otoritas mutlak kepada manusia.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya