Jihad di Tanah Terjajah: Islam, Pendidikan, dan Perlawanan
Miftah yusufpati
Jum'at, 22 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Para mubalig, ulama, dan santri tak hanya mengajarkan shalat dan puasa, tetapi juga membakar semangat perlawanan melalui ajaran tauhid. Ilustrasi: Detik
LANGIT7.ID- Di antara riuh perlawanan bersenjata, ada sejarah yang jarang dikisahkan: perjuangan dakwah Islam di bumi Nusantara saat bayang-bayang kolonial begitu pekat. Para mubalig, ulama, dan santri tak hanya mengajarkan shalat dan puasa, tetapi juga membakar semangat perlawanan melalui ajaran tauhid. “Islam menjadi perekat sosial dan ideologi perlawanan,” tulis sejarawan Taufik Abdullah dalam Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia (LP3ES, 1987).
Dakwah Islam sudah berakar jauh sebelum Portugis menjejakkan kaki di Malaka (1511). Namun, era kolonial mengubah pola penyebaran Islam: dari sekadar penyebaran damai menjadi gerakan yang sarat muatan politik dan sosial. Para ulama melihat penjajahan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga ancaman akidah.
“Perlawanan terhadap kafir penjajah adalah bagian dari jihad,” ungkap Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Mizan, 1991). Inilah yang memicu lahirnya gerakan tarekat seperti Sammaniyah dan Naqsyabandiyah yang menyebar dari Aceh hingga Banten. Mereka mengajarkan zikir, tapi juga diam-diam mempersiapkan laskar perlawanan.
Baca juga: KH Cholil Nafis Sebut Dakwah Islam Asia Tenggara Diakui Dunia: Damai, Lembut, Berbudaya
Masjid dan Surau: Benteng Intelektual dan Ideologis
Di Minangkabau, surau bukan hanya tempat mengaji, tapi juga ruang konsolidasi anti-kolonial. Di Jawa, pesantren menjadi benteng terakhir melawan penetrasi budaya Barat. KH Hasyim Asy’ari misalnya, menekankan pentingnya mempertahankan tradisi keilmuan Islam di tengah gempuran pendidikan Belanda. “Menuntut ilmu adalah jihad, bahkan lebih tinggi daripada perang,” tulisnya dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim.
Dakwah di era ini juga melahirkan jaringan intelektual yang menghubungkan ulama Nusantara dengan Timur Tengah. Pengiriman santri ke Mekah dan Kairo melahirkan generasi pembaru seperti KH Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Mereka pulang membawa ide modernisme Islam sekaligus memperkuat basis perlawanan kultural.
Dakwah Islam sudah berakar jauh sebelum Portugis menjejakkan kaki di Malaka (1511). Namun, era kolonial mengubah pola penyebaran Islam: dari sekadar penyebaran damai menjadi gerakan yang sarat muatan politik dan sosial. Para ulama melihat penjajahan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga ancaman akidah.
“Perlawanan terhadap kafir penjajah adalah bagian dari jihad,” ungkap Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Mizan, 1991). Inilah yang memicu lahirnya gerakan tarekat seperti Sammaniyah dan Naqsyabandiyah yang menyebar dari Aceh hingga Banten. Mereka mengajarkan zikir, tapi juga diam-diam mempersiapkan laskar perlawanan.
Baca juga: KH Cholil Nafis Sebut Dakwah Islam Asia Tenggara Diakui Dunia: Damai, Lembut, Berbudaya
Masjid dan Surau: Benteng Intelektual dan Ideologis
Di Minangkabau, surau bukan hanya tempat mengaji, tapi juga ruang konsolidasi anti-kolonial. Di Jawa, pesantren menjadi benteng terakhir melawan penetrasi budaya Barat. KH Hasyim Asy’ari misalnya, menekankan pentingnya mempertahankan tradisi keilmuan Islam di tengah gempuran pendidikan Belanda. “Menuntut ilmu adalah jihad, bahkan lebih tinggi daripada perang,” tulisnya dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim.
Dakwah di era ini juga melahirkan jaringan intelektual yang menghubungkan ulama Nusantara dengan Timur Tengah. Pengiriman santri ke Mekah dan Kairo melahirkan generasi pembaru seperti KH Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Mereka pulang membawa ide modernisme Islam sekaligus memperkuat basis perlawanan kultural.