Hijrah di Ujung Nafas: Perjalanan Dhamrah bin Jundub yang Diabadikan Al-Qur’an
Miftah yusufpati
Rabu, 27 Agustus 2025 - 16:30 WIB
Hijrah Dhamrah mungkin tidak sampai Madinah, tetapi ia sampai pada tujuan yang sejati: ridha Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah teriknya padang pasir Makkah, di masa ketika Islam masih berjuang untuk tegak, seorang lelaki tua menggenggam tekad yang jarang dimiliki banyak orang. Namanya Dhamrah bin Jundub. Usianya telah senja, tubuhnya renta, dan penyakit melemahkan setiap sendi. Namun, di balik fisik yang lemah, jiwanya menyala oleh iman.
Dhamrah hidup pada periode kritis: tekanan Quraisy terhadap kaum Muslimin memuncak, hingga Allah memerintahkan hijrah ke Madinah. Perintah ini bukan sekadar perpindahan geografis, tapi juga simbol pembebasan dari belenggu tirani menuju masyarakat yang merdeka. Namun, hijrah bukan perkara mudah. Jalan yang terbentang dari Makkah ke Madinah sejauh ±400 km, melintasi padang pasir tanpa belas kasihan, menjadi ujian keimanan.
Bagi para pemuda sehat, hijrah pun penuh risiko. Apalagi bagi seorang tua sakit seperti Dhamrah. Namun, ia mendengar kabar: siapa yang mampu hijrah tetapi enggan, maka ia tergolong dalam golongan yang “menganiaya diri sendiri”. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ 97:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’…”
Baca juga: Cerita Perjalanan Hijrah Afgan, Berawal dari Guncangan Psikis Jelang Usia 30 Tahun
Ayat ini menusuk hati Dhamrah. Ia berkata kepada keluarganya: “Keluarkan aku dari negeri ini. Aku tidak ingin mati di Makkah setelah mendengar seruan hijrah.” (Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, hlm. 114). Ucapannya menggetarkan, karena ia sadar maut menunggu. Namun, niatnya tak tergoyahkan.
Lelaki tua ini dipapah, mungkin dengan tandu sederhana. Nafasnya tersengal, tubuhnya digerogoti sakit. Tapi setiap langkah adalah bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam perjalanan, sebelum Madinah terlihat, ajal menjemput. Dhamrah bin Jundub wafat di tengah jalan, jauh dari kota tujuan, namun dekat dengan ridha Tuhan.
Dhamrah hidup pada periode kritis: tekanan Quraisy terhadap kaum Muslimin memuncak, hingga Allah memerintahkan hijrah ke Madinah. Perintah ini bukan sekadar perpindahan geografis, tapi juga simbol pembebasan dari belenggu tirani menuju masyarakat yang merdeka. Namun, hijrah bukan perkara mudah. Jalan yang terbentang dari Makkah ke Madinah sejauh ±400 km, melintasi padang pasir tanpa belas kasihan, menjadi ujian keimanan.
Bagi para pemuda sehat, hijrah pun penuh risiko. Apalagi bagi seorang tua sakit seperti Dhamrah. Namun, ia mendengar kabar: siapa yang mampu hijrah tetapi enggan, maka ia tergolong dalam golongan yang “menganiaya diri sendiri”. Allah berfirman dalam QS. An-Nisa’ 97:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’…”
Baca juga: Cerita Perjalanan Hijrah Afgan, Berawal dari Guncangan Psikis Jelang Usia 30 Tahun
Ayat ini menusuk hati Dhamrah. Ia berkata kepada keluarganya: “Keluarkan aku dari negeri ini. Aku tidak ingin mati di Makkah setelah mendengar seruan hijrah.” (Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, hlm. 114). Ucapannya menggetarkan, karena ia sadar maut menunggu. Namun, niatnya tak tergoyahkan.
Lelaki tua ini dipapah, mungkin dengan tandu sederhana. Nafasnya tersengal, tubuhnya digerogoti sakit. Tapi setiap langkah adalah bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam perjalanan, sebelum Madinah terlihat, ajal menjemput. Dhamrah bin Jundub wafat di tengah jalan, jauh dari kota tujuan, namun dekat dengan ridha Tuhan.