LANGIT7.ID-Jakarta; - Ayat kedua dalam surat Al-Fatihah, yang berbunyi Alhamdu lillahi rabbil alamin, merupakan puncak pujian tertinggi sekaligus pengakuan mutlak terhadap ketauhidan sifat ketuhanan Allah. Di dalam keilmuan Islam, surat pembuka ini memiliki tiga nama yang sangat masyhur, yaitu Fatihah al-Kitab, Umm al-Qur'an, dan al-Sab' al-Matsani.
Ulama tafsir terkemuka, Al-Baghawi, dalam kitabnya Ma'alim at-Tanzil, menjelaskan bahwa penamaan al-Sab' al-Matsani merujuk pada fakta bahwa surat ini terdiri dari tujuh ayat yang dibaca secara berulang-ulang dalam setiap rakaat shalat. Keberadaan ayat kedua ini memegang peranan sebagai fondasi utama untuk memahami hubungan hakiki antara Allah sebagai pencipta dan alam semesta sebagai ciptaan-Nya.
Para ahli tafsir pun sepakat bahwa kalimat ini mengandung bentuk pengagungan sempurna yang hanya layak ditujukan kepada-Nya. Secara tekstual, penggalan kata al-hamdu menyimpan makna yang sangat mendalam.
Ulama besar Al-Sa'di dalam kitab Taysir al-Karim al-Rahman menguraikan bahwa al-hamdu merupakan bentuk pujian yang menyeluruh dan sempurna. Hak milik atas pujian tersebut secara mutlak hanya berada di tangan Allah karena kesempurnaan zat, sifat, hingga seluruh perbuatan-Nya.
Imbuhan huruf alif dan lam di awal kata tersebut menandakan cakupan definitif yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun pujian yang benar di alam semesta ini melainkan bersumber dan kembali kepada Allah semata. Karakteristik ini membedakannya dengan kata al-madh atau pujian biasa yang secara bahasa masih dapat disematkan kepada makhluk. Al-Sa'di memberikan penekanan bahwa ungkapan syukur ini wajib didasarkan pada kesadaran penuh hamba terhadap segala kebaikan dan keutamaan tanpa batas yang telah diberikan oleh pencipta mereka.
Al-Baghawi menambahkan bahwa pengulangan kalimat agung ini di dalam shalat bukan sekadar pemenuhan ritual ibadah tanpa arti. Aktivitas tersebut merupakan bentuk pembaruan janji dan pengakuan yang terus-menerus tertanam di dalam jiwa seorang mukmin bahwa seluruh poros pujian di dunia ini berpusat pada Allah.
Hubungan ini kemudian dipertegas oleh penggalan selanjutnya, yaitu rabbi al-alamin, yang memperinci kedudukan Allah sebagai penguasa yang memelihara jagat raya. Sifat rububiyah yang melekat pada kata Rabb mengandung tiga cakupan utama, yakni sebagai pemilik, penguasa tertinggi, sekaligus pengatur tunggal.
Sementara itu, istilah al-alamin yang ditulis dalam bentuk jamak merepresentasikan seluruh diversitas makhluk hidup yang ada di alam raya, mulai dari manusia, jin, malaikat, dunia hewan, tumbuh-tumbuhan, hingga bentangan langit dan bumi.
Untuk memperkuat pemahaman mengenai otoritas mutlak tersebut, mufassir At-Tabari dalam kitab Jami' al-Bayan menjelaskan esensi kata Rabb melalui pendekatan keadilan.
Otoritas yang dimiliki oleh pengatur semesta alam adalah kekuasaan yang bersih dari segala bentuk kezaliman, ketidakadilan, maupun tindakan penganiayaan terhadap makhluk-Nya. Segala keputusan yang berjalan di alam semesta didasarkan pada kebenaran yang presisi. Di sisi lain, Ibnu Katsir mengutip pandangan Mujahid dan Ziyad bin Abi Maryam mengenai keistimewaan tujuh ayat yang diulang-ulang ini.
Mereka memandang bahwa ayat kedua surat Al-Fatihah ini menjadi tiang penyangga bagi tujuh perkara besar di dalam kitab suci, yaitu perintah, larangan, kabar gembira, peringatan, perumpamaan hidup, perhitungan nikmat, serta seluruh berita penting keagamaan. Hal tersebut terjadi karena pondasi dari seluruh syariat agama bermula dari pengakuan bahwa Allah adalah penguasa alam semesta.
Sebagai bentuk anugerah yang mulia, At-Tabari membawa riwayat penting yang menyatakan bahwa surat Fatihah ini merupakan hadiah eksklusif yang hanya diberikan kepada Nabi Muhammad dan umatnya, serta tidak pernah diberikan kepada nabi-nabi terdahulu. Keistimewaan ini menuntut umat Islam untuk mengambil faedah mendalam yang terkandung di dalam ayat kedua tersebut.
Faedah pertama mendidik manusia untuk selalu mengawali segala urusan penting kehidupan dengan ucapan pujian demi mengharap keberkahan. Kedua, mengokohkan akidah tauhid dalam sanubari bahwa seluruh urusan makhluk berada di bawah kendali penuh satu Rabb. Ketiga, melahirkan kesadaran kosmis mengenai betapa luasnya ciptaan Allah yang tersebar di alam semesta, baik yang kasatmata maupun yang masih misterius bagi pengetahuan manusia.
Jalinan erat antara ayat pertama dan ayat-ayat selanjutnya dalam surat Al-Fatihah mengajarkan sebuah prinsip kepasrahan yang logis. Kalimat Alhamdu lillahi rabbil alamin menjelma sebagai pernyataan tauhid yang paling komprehensif karena berhasil menyatukan antara pujian yang tulus dan ketundukan terhadap aturan alam.
Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah dengan meresapi pengulangan ayat ini di setiap rakaat shalat, sehingga kesadaran akan kebesaran Allah tidak menguap begitu saja, melainkan menjelma menjadi navigasi moral dan sumber kerendahan hati dalam menjalani kehidupan di tengah hamparan alam semesta.
(zhd)