LANGIT7.ID, New York,- -
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menyerahkan trofi
Piala Dunia kepada pemenang laga final antara Argentina dan Spanyol pada Ahad (19/7/2026) waktu setempat.
Namun, bagi Trump, pemenang terbesar dari
turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia itu kemungkinan adalah
Amerika Serikat sendiri.
Baca juga: Piala Dunia 2026: FIFA Umumkan Pendapatan Rekor Rp244 Triliun, Lampaui Ekspektasi“Terbukti bahwa kami adalah negara sepak bola, dan saya pikir hal ini akan terus bertahan,” ujar Trump dalam acara resepsi FIFA di Trump Tower, New York City, Jumat, dilansir dari AP. Ia menilai Piala Dunia telah menjadi ajang yang mampu menyatukan masyarakat dunia.
Bagi Gedung Putih, final Piala Dunia menjadi puncak persiapan lebih dari setahun bersama bersama dua negara tuan rumah lainnya, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia kali ini menjadi edisi terbesar dalam sejarah turnamen tersebut.
Sebelumnya, Pemerintahan Trump harus menghadapi berbagai persoalan, termasuk kebijakan imigrasi ketat yang membatasi masuknya sejumlah pendukung dari negara-negara peserta kualifikasi Piala Dunia ke Amerika Serikat.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia menyampaikan kritik terhadap kebijakan tersebut. Selain itu, turnamen juga menghadapi sorotan terkait tingginya harga tiket yang dinilai membatasi akses sebagian penggemar.
Baca juga: Dahsyat! Tiket Menit Terakhir Final Piala Dunia Spanyol vs Argentina Dibanderol Mulai Rp163-987 JutaSelama beberapa bulan, Trump sempat mempertimbangkan pemindahan pertandingan dari sejumlah kota yang dianggap tidak bekerja sama dengan otoritas imigrasi federal. Ketegangan juga meningkat menjelang turnamen setelah pemerintah daerah dan FIFA berbeda pandangan mengenai biaya transportasi.
Ketika pertandingan mulai digelar, pemerintahan AS masih mendapat perhatian internasional terkait kebijakan visa. Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah penolakan masuk terhadap seorang wasit asal Somalia yang sebelumnya mendapat penghargaan atas kiprahnya dalam dunia sepak bola.
Situasi semakin kompleks setelah Amerika Serikat terlibat konflik dengan Iran. Pemerintah AS kemudian menghadapi persoalan terkait keberadaan tim nasional Iran, setelah sebagian pendukung dan anggota pendukung tim tidak dapat memasuki wilayah AS. Tim Iran akhirnya bermarkas di Tijuana, Meksiko, selama turnamen berlangsung.
Namun, narasi mengenai Piala Dunia secara perlahan berubah. Media sosial dipenuhi berbagai cerita positif dari para suporter internasional yang menikmati budaya Amerika Serikat, mulai dari kuliner hingga tradisi lokal seperti bir dan saus ranch.
Baca juga: Prancis Bangkit dari Ketertinggalan 0-4, tetapi Inggris Tetap Rebut Peringkat Ketiga Piala Dunia 2026Kekhawatiran sebelumnya mengenai kemungkinan operasi penegakan imigrasi di sekitar lokasi pertandingan juga tidak terjadi. Turnamen yang sempat dibayangi kontroversi akhirnya berkembang menjadi ajang perayaan sepak bola global yang mempertemukan berbagai budaya dari seluruh dunia.
(est)