home masjid

Jejak Panjang Pertarungan Islam dan Komunisme: Sejarah, Ideologi, dan Dampaknya hingga Kini

Kamis, 28 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Ketegangan antara Islam dan komunisme di Indonesia bukan fenomena sesaat, melainkan hasil benturan ideologis yang berakar sejak awal pergerakan nasional. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ketegangan antara Islam dan komunisme di Indonesia bukan fenomena sesaat, melainkan hasil benturan ideologis yang berakar sejak awal pergerakan nasional. Dalam sejarah politik Indonesia, keduanya pernah berada di garis yang sama, melawan kolonialisme, namun kemudian menjadi musuh bebuyutan.

Sejarah mencatat, Partai Komunis Indonesia (PKI) berdiri tahun 1920 sebagai kelanjutan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang digagas Henk Sneevliet. Ide-ide Marxisme masuk ke tanah air melalui jalur pergerakan buruh dan tani. Di sisi lain, Sarekat Islam (SI) yang lahir pada 1912 juga mengusung perlawanan terhadap kolonialisme, tetapi dengan basis Islam.

Keduanya sempat beririsan dalam isu anti-penjajahan. Bahkan, sejumlah tokoh SI Merah seperti Semaun dan Darsono berafiliasi dengan komunisme. Namun, konflik mulai muncul ketika ideologi ateistik PKI bertabrakan dengan prinsip tauhid dalam Islam. Menurut Herbert Feith dan Lance Castles dalam "Indonesian Political Thinking 1945-1965" (Cornell University Press, 1970), pertentangan ini bersifat fundamental karena menyentuh akar keyakinan.

Baca juga: Mahfud MD: Paham Radikalisme dan Komunisme Tidak Dapat Berkuasa di Indonesia

Perpecahan Sarekat Islam dan Lahirnya Polarisasi

Pada 1921, Sarekat Islam mengeluarkan disiplin partai, melarang rangkap keanggotaan dengan PKI. Keputusan ini memicu perpecahan: kubu HOS Tjokroaminoto tetap memilih jalur Islam, sementara Semaun dan kelompoknya mendirikan SI Merah yang kemudian bertransformasi menjadi PKI. Sejak itu, polarisasi Islam-Komunis kian mengeras.

Sejarawan Harry J. Benda dalam "The Crescent and the Rising Sun" (Yale University Press, 1958) menulis, konflik ini bukan sekadar ideologi, melainkan juga strategi politik memperebutkan basis massa petani dan buruh. PKI mengklaim mewakili kaum tertindas, sementara organisasi Islam menganggap perjuangan harus sesuai syariat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya