home masjid

Menjaga Martabat Perempuan dalam Islam: Antara Teks Suci dan Realitas Sosial

Kamis, 04 September 2025 - 05:45 WIB
Ajaran Islam, dalam teks-teks sucinya, memuat pesan yang terang tentang kesetaraan. Ilustrasi: Arab News
LANGIT7.ID-Di sebuah madrasah kecil di pinggiran Yogyakarta, Siti Aminah mengajar tafsir Al-Qur’an dengan tenang. Ia bukan sekadar guru, melainkan satu dari segelintir ulama perempuan yang mulai menyuarakan tafsir berbasis keadilan gender. Dalam setiap pengajian, ia kerap mengulang kalimat ini: “Islam bukan milik patriarki.”

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Ajaran Islam, dalam teks-teks sucinya, memuat pesan yang terang tentang kesetaraan. Namun realitas berkata lain: perempuan masih sering berada di lapis kedua, baik dalam masyarakat, hukum, maupun institusi keagamaan.

Al-Qur’an, sebagai sumber utama ajaran Islam, menyebut perempuan dan laki-laki dalam kerangka kesetaraan moral dan spiritual. Dalam QS. Ali-Imran (3):195, Tuhan menjanjikan pahala tanpa membedakan gender: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”

Ayat ini diperkuat dalam QS. Al-Hujurat (49):13—bahwa kemuliaan hanya ditentukan oleh ketakwaan, bukan jenis kelamin. Hadis Nabi pun menyebut perempuan sebagai “saudara kandung laki-laki.”

Baca juga: Nasaruddin Umar: Hampir Semua Tafsir Mengalami Gender Bias

Namun dalam sejarah panjang Islam, tafsir kerap menjadi arena dominasi tafsir laki-laki, dan dari sanalah bias patriarki menyusup. Sejarawan dan sosiolog Muslimah, Fatema Mernissi, menyebut fenomena ini sebagai *“perampasan simbolik”*—di mana teks dibaca bukan dengan kejujuran spiritual, tapi dengan kepentingan sosial budaya yang maskulin.

Tafsir Ulang: Melawan Patriarki dengan Al-Qur’an
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya