Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Menjaga Martabat Perempuan dalam Islam: Antara Teks Suci dan Realitas Sosial

miftah yusufpati Kamis, 04 September 2025 - 05:45 WIB
Menjaga Martabat Perempuan dalam Islam: Antara Teks Suci dan Realitas Sosial
Ajaran Islam, dalam teks-teks sucinya, memuat pesan yang terang tentang kesetaraan. Ilustrasi: Arab News
LANGIT7.ID-Di sebuah madrasah kecil di pinggiran Yogyakarta, Siti Aminah mengajar tafsir Al-Qur’an dengan tenang. Ia bukan sekadar guru, melainkan satu dari segelintir ulama perempuan yang mulai menyuarakan tafsir berbasis keadilan gender. Dalam setiap pengajian, ia kerap mengulang kalimat ini: “Islam bukan milik patriarki.”

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Ajaran Islam, dalam teks-teks sucinya, memuat pesan yang terang tentang kesetaraan. Namun realitas berkata lain: perempuan masih sering berada di lapis kedua, baik dalam masyarakat, hukum, maupun institusi keagamaan.

Al-Qur’an, sebagai sumber utama ajaran Islam, menyebut perempuan dan laki-laki dalam kerangka kesetaraan moral dan spiritual. Dalam QS. Ali-Imran (3):195, Tuhan menjanjikan pahala tanpa membedakan gender: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”

Ayat ini diperkuat dalam QS. Al-Hujurat (49):13—bahwa kemuliaan hanya ditentukan oleh ketakwaan, bukan jenis kelamin. Hadis Nabi pun menyebut perempuan sebagai “saudara kandung laki-laki.”

Baca juga: Nasaruddin Umar: Hampir Semua Tafsir Mengalami Gender Bias

Namun dalam sejarah panjang Islam, tafsir kerap menjadi arena dominasi tafsir laki-laki, dan dari sanalah bias patriarki menyusup. Sejarawan dan sosiolog Muslimah, Fatema Mernissi, menyebut fenomena ini sebagai *“perampasan simbolik”*—di mana teks dibaca bukan dengan kejujuran spiritual, tapi dengan kepentingan sosial budaya yang maskulin.

Tafsir Ulang: Melawan Patriarki dengan Al-Qur’an

Beberapa cendekia perempuan Muslim menjawab bias itu dengan pendekatan tafsir baru. Asma Barlas, dalam Believing Women in Islam, menulis bahwa Qur’an sejatinya menolak struktur patriarkis. Masalahnya bukan pada teks, tapi pada cara membacanya.

Amina Wadud lebih jauh lagi. Dalam Qur’an and Woman, ia menantang batasan-batasan keagamaan yang dibuat secara kultural. Ia pernah memimpin salat Jumat di New York, memicu perdebatan global. Namun baginya, perempuan tidak sedang merebut kuasa imam, tapi sedang menuntut ruang setara sebagai subjek spiritual.

Sementara itu, Asma Lamrabet, dengan istilah feminisme jalan ketiga, berusaha menyeimbangkan antara nilai-nilai Islam dan semangat keadilan gender modern. Ia mengusulkan jalan tengah yang tidak tunduk pada sekularisme Barat, tapi juga tidak terjebak pada konservatisme Islam.

Tak hanya di ruang akademik, wacana feminisme Islam kini menjelma menjadi gerakan institusional. Women's Islamic Initiative in Spirituality and Equality (WISE), misalnya, hadir sebagai ruang kolektif bagi perempuan Muslim di berbagai negara untuk menyusun agenda perubahan berbasis nilai-nilai Islam.

Baca juga: Persepsi Masyarakat Terhadap Gender Banyak Bersumber dari Tradisi Keagamaan

Di Indonesia, momentum besar terjadi saat Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) digelar. Para ulama perempuan membahas isu-isu yang selama ini dikebiri dalam diskursus keagamaan: kekerasan terhadap perempuan, pernikahan anak, bahkan praktik sunat perempuan. Mereka menyusun fatwa-fatwa progresif yang kini mulai memengaruhi arah kebijakan publik.

Realitas Tak Selalu Ramah

Namun jalan masih panjang. Di banyak wilayah, penghormatan terhadap perempuan masih sebatas simbol. Media kerap menampilkan perempuan sebagai pelengkap visual, bukan agen perubahan. Narasi "perempuan baik-baik" dibingkai dengan standar moral konservatif yang tak adil.

Lebih ekstrem, di sejumlah negara, praktik “honor killings”—pembunuhan atas nama kehormatan—masih terjadi. Padahal, Islam secara eksplisit melarang tindakan main hakim seperti ini. “Itu bukan Islam,” kata Mufti Mohammad Qasmi dalam wawancara dengan Time.

Baca juga: Perkasa di Ring Hajar Lawan, Petinju Aljazair Imane Khelif Diduga Transgender

Islam tidak kekurangan sumber untuk menjunjung martabat perempuan. Masalahnya ada pada praktik dan keberanian untuk melawan interpretasi yang usang.

“Islam adalah agama pembebas,” ujar Prof. Musdah Mulia, salah satu akademisi terkemuka di bidang studi Islam dan gender. “Tapi pembebasan itu tidak akan terjadi tanpa perjuangan menafsirkan ulang nilai-nilainya.”

Maka menjaga martabat perempuan dalam Islam adalah sebuah panggilan: bukan sekadar kembali ke teks, tapi juga maju ke konteks, membaca ulang, memahami ulang, dan bertindak ulang. Karena martabat bukan hadiah. Ia harus diperjuangkan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)