home masjid

Siapa Bilang Tak Ada Perayaan Maulid Nabi di Arab Saudi?

Kamis, 04 September 2025 - 16:30 WIB
Akankah Maulid kembali ke ruang publik Saudi? Sulit. Tapi selama cinta kepada Nabi tetap menyala, 12 Rabiul Awal akan terus dikenangmeski hanya dalam bisik doa di ruang-ruang sunyi. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Setiap 12 Rabiul Awal, gema selawat menggema dari Maroko hingga Malaysia. Masjid-masjid di Nusantara penuh dengan qasidah dan ceramah. Jalan-jalan di Kairo diterangi lampu warna-warni, anak-anak menggenggam permen maulid. Tapi di tanah kelahiran Nabi, pemandangan itu tak terlihat. Tidak ada perayaan resmi, bahkan fatwa melarangnya. Benarkah Maulid Nabi sama sekali tak ada di Arab Saudi?

Jawabannya berakar pada ideologi keagamaan Kerajaan Saudi: Wahabisme. Gerakan yang lahir dari pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792) ini menekankan pemurnian akidah dan penolakan terhadap bid’ah—praktik keagamaan yang tak dikenal pada masa Rasulullah. Dalam pandangan Wahabi, Maulid Nabi adalah inovasi yang tidak pernah dilakukan Nabi dan sahabatnya. Tidak ada perintah dalam Al-Qur’an, tidak pula contoh dalam hadis. Kesimpulannya: haram.

Syaikh Abdul Aziz Al-Asheikh, Mufti Agung Saudi, menegaskan dalam khutbahnya: “Perayaan Maulid adalah bid’ah. Tidak pernah dilakukan generasi terbaik Islam. Yang wajib adalah ittiba’, bukan ibtida’.” Fatwa ini sudah menjadi sikap resmi negara sejak berdirinya Saudi modern pada 1932. Negara menegakkan larangan dengan perangkat hukum syariat. Cinta kepada Nabi, menurut mereka, diwujudkan dengan mengikuti sunnah sehari-hari, bukan ritual tahunan.

Baca juga: Sejarah Panjang Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi

Argumen ini ditegaskan pula oleh ulama besar Wahabi, seperti Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin. Dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Ibnu Utsaimin menulis: “Perayaan Maulid adalah tambahan yang tidak diajarkan Nabi” (Ibnu Utsaimin, Riyadh: Darul Watan, 1998).

Namun, larangan resmi bukan berarti Maulid hilang sepenuhnya. Di Hijaz—Makkah, Madinah, Jeddah—tradisi ini tetap hidup, meski diam-diam. Sebagian keluarga Alawiyyin dan komunitas sufi menggelar Maulid sederhana di rumah atau majelis kecil. Mereka membaca Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, berzikir, dan bersedekah. Tak ada arak-arakan atau gemerlap lampu. Hanya doa dan lantunan qasidah, di ruang privat, jauh dari sorotan aparat.

Maulid di Jeddah itu seperti rahasia umum. Dilakukan malam hari, hanya orang terdekat. Bagi mereka, ini ekspresi cinta, bukan ritual syirik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya