home masjid

Rindu dalam Lantunan Selawat: Maulid Nabi di Majelis Sufi

Jum'at, 05 September 2025 - 05:15 WIB
Maulid ala sufi bukan sekadar ritual, tapi perayaan cinta: qasidah, zikir, dan doa berpadu dalam harmoni spiritual. Di baliknya, perdebatan klasik soal bidah masih terus menyala. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah ruangan sederhana di Pekalongan, lampu-lampu minyak menyala redup. Bau gaharu bercampur harum bunga mawar memenuhi udara. Malam itu, lantunan qasidah “Ya Nabi Salam Alaika” menggema, mengiringi suara ratusan jamaah yang duduk bersila. Di hadapan mereka, kitab Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi terbuka. Sang pembaca melagukannya dengan penuh penghayatan, disambut gumaman “Allah… Allah…” dari hadirin.

Inilah salah satu wajah Maulid Nabi ala tarekat sufi: sebuah ritual yang memadukan syair, musik, dan spiritualitas, yang oleh sebagian kalangan puritan dituding sebagai bid’ah. Tetapi bagi mereka yang berkumpul malam itu, Maulid adalah zikir kolektif yang menyalakan cinta kepada Rasulullah.

Maulid Nabi tidak lahir di ruang hampa. Marion Holmes Katz dalam bukunya The Birth of the Prophet Muhammad: Devotional Piety in Sunni Islam(Routledge, 2007) mencatat bahwa tradisi Maulid berkembang pada abad ke-12 di Mosul dan kemudian menyebar ke Mesir, Syam, dan Hijaz. Ia mula-mula dipelopori oleh dinasti Fatimiyah di Kairo, kemudian diadopsi oleh kaum Sunni pada masa Salahuddin al-Ayyubi sebagai sarana memperkuat identitas umat.

Para sufi menjadi motor penggerak penyebaran Maulid. “Majelis Maulid adalah bagian dari budaya tarekat. Ia menjadi sarana pengajaran ruhani dan perayaan cinta,” tulis Samer Akkach dalam Islam and the Architectural Order (Routledge, 2005). Ritual ini masuk ke Nusantara melalui para habaib dan ulama tarekat, lalu bertransformasi menjadi perayaan rakyat yang meriah.

Baca juga: Siapa Bilang Tak Ada Perayaan Maulid Nabi di Arab Saudi?

Estetika Zikir: Musik dan Qasidah sebagai Medium Cinta

Bagi kaum sufi, Maulid bukan sekadar memperingati tanggal lahir Nabi. Ia adalah momentum untuk tawassul—mendekatkan diri kepada Allah dengan mengingat orang yang paling dicintai-Nya. Dalam kitab Husn al-Maqsid fi Amal al-Maulid, Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) menegaskan bahwa Maulid adalah amal kebaikan jika diisi dengan bacaan Al-Qur’an, puji-pujian, dan sedekah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya