Ahmad Fuadi, Santri Mendunia yang Sebarkan Inspirasi Lewat Novel Best Seller
Muhajirin
Selasa, 05 Oktober 2021 - 16:44 WIB
Setelah menulis novel best seller, Ahmad Fuadi makin melanglang buana keliling dunia. Salah satunya ia sempat berkunjung ke Baitul Maqdis, Yerusalem (foto: instagram/@afuadi)
Pernah baca novel atau nonton film Negeri Lima Menara? sosok di balik novel best seller itu merupakan santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Namanya Ahmad Fuadi. Ia lahir di Bayur Maninjau, Sumatera Barat pada 30 Desember 1973.
Merantau ke pulau Jawa untuk mondok tak sia-sia. Ia berhasil banyak mendapatkan beasiswa di luar negeri dan menjadi penulis novel ternama.
Ia nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur setelah lulus Sekolah Menengah Pertama. Di sana, ia tak hanya mengenal ilmu agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan. Bahkan dan bahasa internasional, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, ia kuasai.
Ahmad Fuadi menyelesaikan pendidikan di Pondok Gontor pada 1992. Ia banyak belajar saat menjadi santri. Belajar tentang keikhlasan, ilmu hidup dan ilmu akhirat. Di pondok itu ia mendapat banyak pesan dan nasihat dan guru dan ustadznya. Sebuah pesan yang melahirkan segudang prestasi.
Ada dua pesan yang diingat Ahmad Fuadi selama masih nyantri yakni ‘man jadda wajada’ (barang siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan menemui kesuksesan) dan ‘orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling banyak manfaat’.
Pesan-pesan tersebut menjadi prinsip hidup. Guru-guru di pesantren tersebut sering memperdengarkan kepada santri radio berbahasa Arab dan Inggris. Dari situ ia termotivasi untuk belajar hingga ke luar negeri.
Ia juga terinspirasi dengan nasehat pendiri Gontor Almarhum KH Ahmad Sahal. "Indonesia omahku, Asia tegal sawahku, Eropa planconganku," artinya "Indonesia adalah rumahku, Asia adalah pekarangan kebunku dan Eropa adalah tempat melancongku," kata KH Ahmad Sahal.
Merantau ke pulau Jawa untuk mondok tak sia-sia. Ia berhasil banyak mendapatkan beasiswa di luar negeri dan menjadi penulis novel ternama.
Ia nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur setelah lulus Sekolah Menengah Pertama. Di sana, ia tak hanya mengenal ilmu agama, akhlak, dan ilmu pengetahuan. Bahkan dan bahasa internasional, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, ia kuasai.
Ahmad Fuadi menyelesaikan pendidikan di Pondok Gontor pada 1992. Ia banyak belajar saat menjadi santri. Belajar tentang keikhlasan, ilmu hidup dan ilmu akhirat. Di pondok itu ia mendapat banyak pesan dan nasihat dan guru dan ustadznya. Sebuah pesan yang melahirkan segudang prestasi.
Ada dua pesan yang diingat Ahmad Fuadi selama masih nyantri yakni ‘man jadda wajada’ (barang siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan menemui kesuksesan) dan ‘orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling banyak manfaat’.
Pesan-pesan tersebut menjadi prinsip hidup. Guru-guru di pesantren tersebut sering memperdengarkan kepada santri radio berbahasa Arab dan Inggris. Dari situ ia termotivasi untuk belajar hingga ke luar negeri.
Ia juga terinspirasi dengan nasehat pendiri Gontor Almarhum KH Ahmad Sahal. "Indonesia omahku, Asia tegal sawahku, Eropa planconganku," artinya "Indonesia adalah rumahku, Asia adalah pekarangan kebunku dan Eropa adalah tempat melancongku," kata KH Ahmad Sahal.