Cinta Dunia: Penyakit Lama yang Menggerogoti Hati
Miftah yusufpati
Senin, 08 September 2025 - 05:15 WIB
Dalam perspektif fiqh prioritas, perhatian lebih besar harus diarahkan pada pendidikan hati, bukan sekadar ritual formal. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ketika umat membanggakan jumlah, namun rapuh dalam kekuatan, Nabi Muhammad pernah menyebut satu kata kunci: wahan. Sebuah kelemahan yang tak kasat mata, tetapi mematikan. “Cinta dunia dan takut mati,” sabda Nabi, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban. Dua hal yang menandai penyakit spiritual yang sulit disembuhkan: cinta dunia.
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh Prioritasmenyebut cinta dunia sebagai salah satu maksiat hati terbesar. Ia bukan sekadar persoalan memiliki harta atau jabatan, melainkan ketamakan yang tak terkendali, ketika kehidupan fana ini lebih diprioritaskan ketimbang akhirat. “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya,” firman Allah dalam surah an-Nazi’at ayat 37-39.
Al-Qur’an mengingatkan: siapa yang hanya menghendaki dunia dan perhiasannya, ia akan mendapat balasan di dunia, tetapi tak punya apa-apa di akhirat kecuali neraka (Hud: 15-16). Ayat lain menegaskan, kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara, sedangkan yang di sisi Allah lebih baik dan kekal (al-Qashas: 60).
Namun, bagaimana realitasnya? Dalam banyak kasus, manusia rela mengorbankan nilai, prinsip, bahkan agamanya demi kekayaan, kedudukan, dan kehormatan. Qardhawi menulis, ketamakan itu seolah-olah dilepaskan seperti dua ekor serigala lapar di tengah kawanan kambing. “Kerusakan yang ditimbulkannya tak kalah besar dengan dampak kerakusan terhadap harta dan kehormatan,” tulisnya, mengutip sabda Nabi.
Tamak memang naluri manusia, tetapi bila ia lepas kendali, ia menimbulkan kesombongan dan kerusakan. Dalam bahasa Al-Qur’an, negeri akhirat diperuntukkan bagi orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak membuat kerusakan (al-Qashas: 83). Tetapi tanda-tanda cinta dunia justru sering terlihat pada kerakusan terhadap jabatan, kepemimpinan, dan popularitas.
Baca juga: Agama di Persimpangan: Mengapa Amalan Hati Lebih Utama daripada Lahiriah
Bahaya Kursi Kekuasaan
Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh Prioritasmenyebut cinta dunia sebagai salah satu maksiat hati terbesar. Ia bukan sekadar persoalan memiliki harta atau jabatan, melainkan ketamakan yang tak terkendali, ketika kehidupan fana ini lebih diprioritaskan ketimbang akhirat. “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya,” firman Allah dalam surah an-Nazi’at ayat 37-39.
Al-Qur’an mengingatkan: siapa yang hanya menghendaki dunia dan perhiasannya, ia akan mendapat balasan di dunia, tetapi tak punya apa-apa di akhirat kecuali neraka (Hud: 15-16). Ayat lain menegaskan, kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara, sedangkan yang di sisi Allah lebih baik dan kekal (al-Qashas: 60).
Namun, bagaimana realitasnya? Dalam banyak kasus, manusia rela mengorbankan nilai, prinsip, bahkan agamanya demi kekayaan, kedudukan, dan kehormatan. Qardhawi menulis, ketamakan itu seolah-olah dilepaskan seperti dua ekor serigala lapar di tengah kawanan kambing. “Kerusakan yang ditimbulkannya tak kalah besar dengan dampak kerakusan terhadap harta dan kehormatan,” tulisnya, mengutip sabda Nabi.
Tamak memang naluri manusia, tetapi bila ia lepas kendali, ia menimbulkan kesombongan dan kerusakan. Dalam bahasa Al-Qur’an, negeri akhirat diperuntukkan bagi orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak membuat kerusakan (al-Qashas: 83). Tetapi tanda-tanda cinta dunia justru sering terlihat pada kerakusan terhadap jabatan, kepemimpinan, dan popularitas.
Baca juga: Agama di Persimpangan: Mengapa Amalan Hati Lebih Utama daripada Lahiriah
Bahaya Kursi Kekuasaan