Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 24 Januari 2026
home masjid detail berita

Cinta Dunia: Penyakit Lama yang Menggerogoti Hati

miftah yusufpati Senin, 08 September 2025 - 05:15 WIB
Cinta Dunia: Penyakit Lama yang Menggerogoti Hati
Dalam perspektif fiqh prioritas, perhatian lebih besar harus diarahkan pada pendidikan hati, bukan sekadar ritual formal. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ketika umat membanggakan jumlah, namun rapuh dalam kekuatan, Nabi Muhammad pernah menyebut satu kata kunci: wahan. Sebuah kelemahan yang tak kasat mata, tetapi mematikan. “Cinta dunia dan takut mati,” sabda Nabi, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud dari Tsauban. Dua hal yang menandai penyakit spiritual yang sulit disembuhkan: cinta dunia.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fiqh Prioritas menyebut cinta dunia sebagai salah satu maksiat hati terbesar. Ia bukan sekadar persoalan memiliki harta atau jabatan, melainkan ketamakan yang tak terkendali, ketika kehidupan fana ini lebih diprioritaskan ketimbang akhirat. “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya,” firman Allah dalam surah an-Nazi’at ayat 37-39.

Al-Qur’an mengingatkan: siapa yang hanya menghendaki dunia dan perhiasannya, ia akan mendapat balasan di dunia, tetapi tak punya apa-apa di akhirat kecuali neraka (Hud: 15-16). Ayat lain menegaskan, kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara, sedangkan yang di sisi Allah lebih baik dan kekal (al-Qashas: 60).

Namun, bagaimana realitasnya? Dalam banyak kasus, manusia rela mengorbankan nilai, prinsip, bahkan agamanya demi kekayaan, kedudukan, dan kehormatan. Qardhawi menulis, ketamakan itu seolah-olah dilepaskan seperti dua ekor serigala lapar di tengah kawanan kambing. “Kerusakan yang ditimbulkannya tak kalah besar dengan dampak kerakusan terhadap harta dan kehormatan,” tulisnya, mengutip sabda Nabi.

Tamak memang naluri manusia, tetapi bila ia lepas kendali, ia menimbulkan kesombongan dan kerusakan. Dalam bahasa Al-Qur’an, negeri akhirat diperuntukkan bagi orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak membuat kerusakan (al-Qashas: 83). Tetapi tanda-tanda cinta dunia justru sering terlihat pada kerakusan terhadap jabatan, kepemimpinan, dan popularitas.

Baca juga: Agama di Persimpangan: Mengapa Amalan Hati Lebih Utama daripada Lahiriah

Bahaya Kursi Kekuasaan

Nabi mengkhawatirkan tamaknya umat pada kekuasaan. “Sesungguhnya kamu kelak akan tamak kepada kepemimpinan, padahal ia akan menyebabkan penyesalan dan kerugian kelak pada hari kiamat,” sabda beliau. Kepemimpinan memang menggiurkan, seperti susu yang menyehatkan. Tetapi begitu berhenti—karena dicopot atau mati—yang tersisa hanyalah kerugian.

Kekuasaan, seperti ditulis Qardhawi, adalah kenikmatan yang cepat menghilang. Orang yang berakal tidak seharusnya tergoda oleh kenikmatan sesaat yang berujung penyesalan panjang. Namun sejarah menunjukkan, kerakusan politik dan ekonomi selalu menjadi penyebab utama kehancuran, baik individu maupun peradaban.

Masalahnya, kemaksiatan hati sering diabaikan. Banyak orang hanya fokus pada dosa lahiriah, lupa bahwa kerusakan batin jauh lebih berbahaya. Al-Ghazali bahkan mendedikasikan tiga perempat karyanya, Ihya’ Ulum al-Din, untuk membahas penyakit-penyakit hati yang merusak (al-muhlikat). Qardhawi mengamini pandangan ini: cinta dunia adalah akar segala kesalahan.

Baca juga: Sebab Amalan Hati, Orang Ini Disebut Rasulullah SAW Tiga Kali Masuk Surga

Selain cinta dunia, ada kemaksiatan batin lainnya yang disebutkan Al-Qur’an: putus asa dari rahmat Allah (Yusuf: 87), merasa aman dari azab-Nya (al-A’raf: 99), dan bergembira ketika kekejian tersebar (an-Nur: 19). Semua ini menggambarkan betapa hati yang tidak terdidik bisa menjadi sumber kehancuran spiritual.

Fiqh Prioritas: Membalik Cara Pandang

Qardhawi menyerukan agar umat Islam menata ulang skala prioritas. Jika energi hanya dihabiskan untuk urusan dunia, agama kehilangan ruhnya. “Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka...” (an-Najm: 29-30).

Dalam perspektif fiqh prioritas, perhatian lebih besar harus diarahkan pada pendidikan hati, bukan sekadar ritual formal. Sebab, cinta dunia bukan penyakit yang terlihat, tetapi ia menggerogoti iman, melahirkan kesombongan, dan meruntuhkan sendi-sendi moral. Bila dibiarkan, ia akan menjadikan umat besar dalam jumlah, tetapi rapuh dalam martabat—seperti ramalan Nabi tentang wahan.

Baca juga: 5 Tanda Penyakit Hati Berlemak yang Perlu Diwaspadai

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 24 Januari 2026
Imsak
04:22
Shubuh
04:32
Dhuhur
12:08
Ashar
15:30
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan