home masjid

Mengapa Agama Tak Pernah Tergantikan oleh Ilmu, Filsafat, dan AI

Selasa, 09 September 2025 - 04:15 WIB
Agama bukan sekadar perangkat ritual, melainkan sumber nilai yang menjaga manusia tetap manusia. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ketika lonceng-lonceng gereja berdentang di abad pertengahan, Eropa diselimuti rasa takut. Para ilmuwan diburu, buku-buku mereka dibakar, dan pengadilan inkuisisi menuduh mereka sesat. Galileo Galilei harus bertekuk lutut, bukan karena kebenaran sainsnya runtuh, tapi karena kuasa agama—atau setidaknya tafsir tunggal gereja—menggilasnya.

“Sejak itu,” tulis Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur'an (Mizan), “ilmuwan menjauh bahkan meninggalkan agama.” Mereka beralih pada hati nurani sebagai pengganti dogma. Namun, alternatif itu rapuh. Nurani manusia, kata Shihab, “terbentuk oleh lingkungan dan pendidikan,” sehingga tidak seragam dan tidak memberi tolok ukur pasti.

Lalu filsafat eksistensialisme lahir. Ia menawari manusia kebebasan mutlak: lakukan apa yang menyenangkan tanpa peduli nilai. Tetapi, itu pun gagal menyingkirkan agama. Mengapa? Karena, seperti ditegaskan Quraish Shihab, keberagamaan adalah fitrah, sifat dasar yang tak bisa dihapus. “Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu.” (QS Ar-Rum [30]: 30)

Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani

Artinya, agama bukan sekadar pilihan. Ia kebutuhan, meski sering ditunda. “Seperti kebutuhan akan udara,” tulis Quraish Shihab. Bisa ditahan sesaat, tapi tak mungkin selamanya. William James, filsuf Amerika, bahkan lebih puitis: “Selama manusia masih punya rasa cemas dan harap, selama itu pula ia beragama.”

Ilmu Menjawab ‘Bagaimana’, Agama Menjawab ‘Mengapa’

Murtadha Muthahhari, pemikir Iran, menegaskan fungsi agama yang tak mampu diambil alih oleh ilmu:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya