Dosa Kecil yang Diremehkan Bisa Menjadi Api Besar
Miftah yusufpati
Selasa, 09 September 2025 - 05:45 WIB
Amalan rutin seperti salat lima waktu, puasa Ramadhan, dan qiyamullail dapat menghapus dosa kecil. Tetapi syaratnya, pelaku menjauhi dosa besar dan tidak meremehkan kesalahan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah lembah, sekelompok orang mengumpulkan ranting-ranting kecil. Satu batang tak berarti apa-apa, tetapi jika terus ditambah, akan menjadi tumpukan besar yang menyala dan membakar. Nabi Muhammad pernah mengibaratkan dosa kecil seperti ranting itu: remeh jika sendiri, tetapi membinasakan jika dikumpulkan.
“Jauhilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bila dilakukan terus-menerus dapat membinasakan orang yang melakukannya,” sabda Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud dan dikutip oleh Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh Prioritas(1996).
Di tengah perbincangan tentang dosa besar—syirik, pembunuhan, zina—agama juga memperingatkan bahaya dosa-dosa kecil (al-lamam). Bukan karena bobotnya yang ringan, tetapi karena kerap dianggap sepele hingga menjadi kebiasaan. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Dinmenegaskan bahwa sikap meremehkan dosa kecil justru memperbesar dampaknya. “Dosa kecil yang dianggap remeh bisa lebih berbahaya daripada dosa besar yang ditakuti,” tulisnya.
Baca juga: Antara Dosa dan Ikatan Suci: Polemik Nikah dengan Pezina
Mengapa Disebut Kecil?
Dalam terminologi Islam, dosa kecil adalah kesalahan yang tidak disertai ancaman hukuman keras atau laknat dalam teks syariat. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi pernah menyebut contoh dosa kecil: mata berzina dengan pandangan, lidah dengan ucapan, dan telinga dengan pendengaran. “Kemudian farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakan,” diriwayatkan oleh Muslim.
Namun, dosa kecil tidak berarti aman. “Apabila terus-menerus dilakukan, ia berubah menjadi dosa besar,” tulis Ibn al-Qayyim dalam al-Jawāb al-Kāfī. Ia mengingatkan, perasaan aman dari dosa kecil adalah awal dari kehancuran spiritual.
“Jauhilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bila dilakukan terus-menerus dapat membinasakan orang yang melakukannya,” sabda Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud dan dikutip oleh Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh Prioritas(1996).
Di tengah perbincangan tentang dosa besar—syirik, pembunuhan, zina—agama juga memperingatkan bahaya dosa-dosa kecil (al-lamam). Bukan karena bobotnya yang ringan, tetapi karena kerap dianggap sepele hingga menjadi kebiasaan. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Dinmenegaskan bahwa sikap meremehkan dosa kecil justru memperbesar dampaknya. “Dosa kecil yang dianggap remeh bisa lebih berbahaya daripada dosa besar yang ditakuti,” tulisnya.
Baca juga: Antara Dosa dan Ikatan Suci: Polemik Nikah dengan Pezina
Mengapa Disebut Kecil?
Dalam terminologi Islam, dosa kecil adalah kesalahan yang tidak disertai ancaman hukuman keras atau laknat dalam teks syariat. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi pernah menyebut contoh dosa kecil: mata berzina dengan pandangan, lidah dengan ucapan, dan telinga dengan pendengaran. “Kemudian farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakan,” diriwayatkan oleh Muslim.
Namun, dosa kecil tidak berarti aman. “Apabila terus-menerus dilakukan, ia berubah menjadi dosa besar,” tulis Ibn al-Qayyim dalam al-Jawāb al-Kāfī. Ia mengingatkan, perasaan aman dari dosa kecil adalah awal dari kehancuran spiritual.