Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 10 Februari 2026
home masjid detail berita

Dosa Kecil yang Diremehkan Bisa Menjadi Api Besar

miftah yusufpati Selasa, 09 September 2025 - 05:45 WIB
Dosa Kecil yang Diremehkan Bisa Menjadi Api Besar
Amalan rutin seperti salat lima waktu, puasa Ramadhan, dan qiyamullail dapat menghapus dosa kecil. Tetapi syaratnya, pelaku menjauhi dosa besar dan tidak meremehkan kesalahan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah lembah, sekelompok orang mengumpulkan ranting-ranting kecil. Satu batang tak berarti apa-apa, tetapi jika terus ditambah, akan menjadi tumpukan besar yang menyala dan membakar. Nabi Muhammad pernah mengibaratkan dosa kecil seperti ranting itu: remeh jika sendiri, tetapi membinasakan jika dikumpulkan.

“Jauhilah dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa kecil itu bila dilakukan terus-menerus dapat membinasakan orang yang melakukannya,” sabda Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud dan dikutip oleh Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh Prioritas (1996).

Di tengah perbincangan tentang dosa besar—syirik, pembunuhan, zina—agama juga memperingatkan bahaya dosa-dosa kecil (al-lamam). Bukan karena bobotnya yang ringan, tetapi karena kerap dianggap sepele hingga menjadi kebiasaan. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menegaskan bahwa sikap meremehkan dosa kecil justru memperbesar dampaknya. “Dosa kecil yang dianggap remeh bisa lebih berbahaya daripada dosa besar yang ditakuti,” tulisnya.

Baca juga: Antara Dosa dan Ikatan Suci: Polemik Nikah dengan Pezina

Mengapa Disebut Kecil?

Dalam terminologi Islam, dosa kecil adalah kesalahan yang tidak disertai ancaman hukuman keras atau laknat dalam teks syariat. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi pernah menyebut contoh dosa kecil: mata berzina dengan pandangan, lidah dengan ucapan, dan telinga dengan pendengaran. “Kemudian farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakan,” diriwayatkan oleh Muslim.

Namun, dosa kecil tidak berarti aman. “Apabila terus-menerus dilakukan, ia berubah menjadi dosa besar,” tulis Ibn al-Qayyim dalam al-Jawāb al-Kāfī. Ia mengingatkan, perasaan aman dari dosa kecil adalah awal dari kehancuran spiritual.

Al-Qur’an mengisyaratkan ampunan bagi kesalahan ringan, tetapi dengan syarat: menjauhi dosa besar. “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar... Kami hapus kesalahan-kesalahanmu yang kecil,” (QS an-Nisa: 31).

Kebiasaan yang Menjerumuskan

Fenomena ini bisa dilihat pada perilaku sosial umat hari ini. Kebohongan kecil untuk menutupi aib, ghibah ringan dalam obrolan, hingga pandangan sekilas yang sengaja. Semua ini masuk kategori muhaqqarat—dosa yang diremehkan. “Kebanyakan api besar berasal dari percikan kecil,” ujar al-Qaradawi mengutip peribahasa Arab.

Penelitian kontemporer juga menyoroti konsep habituasi dalam moralitas. James Q. Wilson dalam The Moral Sense (1993) menyebut bahwa kebiasaan kecil membentuk struktur moral seseorang. Kesalahan kecil yang berulang mengikis sensitivitas etika, sehingga individu lebih mudah melakukan pelanggaran besar.

Baca juga: Kisah Hikmah: Kasih Sayang Seorang Pendosa dan Jalan Menuju Surga

Banyak orang menganggap dosa kecil tak seberapa. “Orang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang siap menimpa, sedangkan orang munafik melihatnya seperti lalat yang hinggap di hidung lalu ia usir begitu saja,” kata Ibn Mas’ud.

Al-Qaradawi menyebut bahaya lainnya: dosa kecil sering dilakukan terang-terangan (mujāharah). Padahal Nabi bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali mereka yang mendemonstrasikan dosanya,” (HR Bukhari-Muslim).

Dimensi Sosial dan Etika

Dalam perspektif fiqh prioritas, dosa kecil yang dilakukan massal dan dibiarkan tanpa koreksi sosial bisa menjadi problem moral kolektif. Misalnya, praktik suap “sekadar ucapan terima kasih”, atau kebiasaan dusta ringan demi kenyamanan sosial. “Ketika yang kecil dibiarkan, ia membuka jalan bagi kerusakan besar,” tulis al-Qaradawi.

Psikologi sosial juga mengonfirmasi hal ini. Teori Broken Windows yang dikemukakan James Wilson dan George Kelling (1982) menyebut bahwa pelanggaran kecil yang dibiarkan menciptakan lingkungan permisif untuk kejahatan besar.

Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang batasan al-lamam. Ibn Abbas mengatakan, “Dosa kecil adalah yang dilakukan sekali lalu ditinggalkan.” Namun jika diulang-ulang, ia keluar dari kategori kecil. Imam Ibn Rajab menambahkan, “Setiap kemaksiatan dinilai berdasarkan posisi pelaku. Zina seorang pemimpin tak sama dengan zina rakyat jelata.”

Baca juga: Ketika Hak Dilanggar, Azab Tak Menunggu Akhirat: Dosa yang Dipercepat Balasannya

Dengan demikian, dosa kecil bukan soal ukuran absolut, tetapi konteks, pengulangan, dan sikap pelaku.

Dalam Islam, amalan rutin seperti salat lima waktu, puasa Ramadhan, dan qiyamullail dapat menghapus dosa kecil. Tetapi syaratnya, pelaku menjauhi dosa besar dan tidak meremehkan kesalahan. “Ranting yang sedikit bila terus dikumpulkan akan menyalakan api besar,” sabda Nabi.

Pesan ini relevan dalam dunia modern, ketika dosa sosial sering dibungkus sebagai hal “sepele”. Kebohongan kecil di media sosial, gosip viral, atau gratifikasi ringan dalam birokrasi, semuanya bisa menjadi api yang membakar tatanan moral.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 10 Februari 2026
Imsak
04:29
Shubuh
04:39
Dhuhur
12:10
Ashar
15:26
Maghrib
18:20
Isya
19:31
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan