Saudara Perempuan Musa A.S. dan Kehebatan Siasatnya
Miftah yusufpati
Selasa, 09 September 2025 - 17:03 WIB
Kecerdasan saudara perempuan Musa mengajarkan bahwa strategi dan keberanian bisa berjalan bersama kesalehan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sungai Nil menjadi saksi bisu drama besar sejarah manusia. Sebuah peti anyaman berisi bayi Musa mengapung di aliran tenang, menjauh dari pelukan sang ibu. Namun, dari kejauhan, sepasang mata tak henti mengikuti arah peti itu. Ia adalah saudara perempuan Musa—tokoh yang jarang disorot, tetapi memainkan peran kunci dalam skenario penyelamatan yang ditulis Ilahi.
Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini: “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: ‘Ikutlah dia,’ maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu: maka berkatalah saudara Musa: ‘Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. al-Qashash: 11-13).
Baca juga: Kisah Ibu Nabi Musa dan Kepatuhannya terhadap Perintah Allah
Strategi di Tengah Bahaya
Saat itu, Mesir hidup dalam teror Fir’aun. Setiap bayi laki-laki Bani Israil menjadi buruan tentara. Melepaskan Musa ke sungai adalah keputusan pahit, tetapi kepasrahan sang ibu kepada Allah menuntut langkah itu. Namun, kepasrahan tidak berarti pasif. Di sinilah peran sang kakak perempuan muncul: ia mengikuti peti dari jauh, memastikan nasib adiknya.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim (Dar Tayyibah, 1999) menafsirkan bahwa siasat ini adalah bentuk kebijaksanaan dan keberanian. “Ia berjalan sambil mengamati, tetapi dengan cara yang tidak menimbulkan kecurigaan,” tulisnya. Dalam kondisi penuh risiko, ia harus menyembunyikan identitas dan hubungannya dengan bayi itu.
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah(Lentera Hati, 2002), peran saudara perempuan Musa menunjukkan bahwa ikhtiar dan tawakal berjalan beriringan. “Ibu Musa tawakal kepada Allah, tetapi ia juga mengutus putrinya untuk memantau—sebuah pelajaran bahwa iman tidak mengabaikan usaha.”
Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini: “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: ‘Ikutlah dia,’ maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu: maka berkatalah saudara Musa: ‘Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. al-Qashash: 11-13).
Baca juga: Kisah Ibu Nabi Musa dan Kepatuhannya terhadap Perintah Allah
Strategi di Tengah Bahaya
Saat itu, Mesir hidup dalam teror Fir’aun. Setiap bayi laki-laki Bani Israil menjadi buruan tentara. Melepaskan Musa ke sungai adalah keputusan pahit, tetapi kepasrahan sang ibu kepada Allah menuntut langkah itu. Namun, kepasrahan tidak berarti pasif. Di sinilah peran sang kakak perempuan muncul: ia mengikuti peti dari jauh, memastikan nasib adiknya.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim (Dar Tayyibah, 1999) menafsirkan bahwa siasat ini adalah bentuk kebijaksanaan dan keberanian. “Ia berjalan sambil mengamati, tetapi dengan cara yang tidak menimbulkan kecurigaan,” tulisnya. Dalam kondisi penuh risiko, ia harus menyembunyikan identitas dan hubungannya dengan bayi itu.
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah(Lentera Hati, 2002), peran saudara perempuan Musa menunjukkan bahwa ikhtiar dan tawakal berjalan beriringan. “Ibu Musa tawakal kepada Allah, tetapi ia juga mengutus putrinya untuk memantau—sebuah pelajaran bahwa iman tidak mengabaikan usaha.”