Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Rabu, 14 Januari 2026
home masjid detail berita

Saudara Perempuan Musa A.S. dan Kehebatan Siasatnya

miftah yusufpati Selasa, 09 September 2025 - 17:03 WIB
Saudara Perempuan Musa A.S. dan Kehebatan Siasatnya
Kecerdasan saudara perempuan Musa mengajarkan bahwa strategi dan keberanian bisa berjalan bersama kesalehan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sungai Nil menjadi saksi bisu drama besar sejarah manusia. Sebuah peti anyaman berisi bayi Musa mengapung di aliran tenang, menjauh dari pelukan sang ibu. Namun, dari kejauhan, sepasang mata tak henti mengikuti arah peti itu. Ia adalah saudara perempuan Musa—tokoh yang jarang disorot, tetapi memainkan peran kunci dalam skenario penyelamatan yang ditulis Ilahi.

Al-Qur’an mengabadikan peristiwa ini: “Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: ‘Ikutlah dia,’ maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu: maka berkatalah saudara Musa: ‘Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. al-Qashash: 11-13).

Baca juga: Kisah Ibu Nabi Musa dan Kepatuhannya terhadap Perintah Allah

Strategi di Tengah Bahaya

Saat itu, Mesir hidup dalam teror Fir’aun. Setiap bayi laki-laki Bani Israil menjadi buruan tentara. Melepaskan Musa ke sungai adalah keputusan pahit, tetapi kepasrahan sang ibu kepada Allah menuntut langkah itu. Namun, kepasrahan tidak berarti pasif. Di sinilah peran sang kakak perempuan muncul: ia mengikuti peti dari jauh, memastikan nasib adiknya.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azhim (Dar Tayyibah, 1999) menafsirkan bahwa siasat ini adalah bentuk kebijaksanaan dan keberanian. “Ia berjalan sambil mengamati, tetapi dengan cara yang tidak menimbulkan kecurigaan,” tulisnya. Dalam kondisi penuh risiko, ia harus menyembunyikan identitas dan hubungannya dengan bayi itu.

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (Lentera Hati, 2002), peran saudara perempuan Musa menunjukkan bahwa ikhtiar dan tawakal berjalan beriringan. “Ibu Musa tawakal kepada Allah, tetapi ia juga mengutus putrinya untuk memantau—sebuah pelajaran bahwa iman tidak mengabaikan usaha.”

Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan

Siasat yang Menyelamatkan

Ketika Musa sampai ke istana Fir’aun, sebuah persoalan muncul: ia menolak disusui oleh perempuan-perempuan Mesir. Inilah titik balik siasat sang kakak. Ia mendekati keluarga Fir’aun dan berkata: “Maukah kamu aku tunjukkan kepada keluarga yang akan memeliharanya?” Tawaran itu terdengar wajar, tetapi sesungguhnya bagian dari rencana yang telah disusun rapih.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an (Dar al-Syuruq, 2003) menulis, “Keputusan ini adalah langkah cerdas, karena jika ia mengungkapkan identitasnya, keselamatan Musa akan terancam. Tetapi dengan menawarkan solusi, ia justru mengikat kepercayaan pihak istana.”

Strategi itu berhasil. Musa dikembalikan kepada ibunya, bukan sebagai anak, tetapi sebagai bayi yang dirawat atas izin kerajaan. Allah menepati janji-Nya: mengembalikan Musa agar hati sang ibu tenang.

Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa

Potret Kepemimpinan Perempuan

Kisah ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam sejarah kenabian. Dalam perspektif sosiologis, langkah saudara Musa adalah bentuk agency—kemampuan bertindak dalam keterbatasan. Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (University of Texas Press, 2002) menilai kisah ini sebagai bukti bahwa Al-Qur’an tidak menghapus peran perempuan, tetapi menampilkan mereka sebagai aktor strategis.

Sejarawan Karen Armstrong dalam A History of God (Ballantine Books, 1993) menambahkan, “Dalam masyarakat patriarkal Mesir kuno, kisah ini sangat progresif: perempuan bukan sekadar penonton, melainkan penggerak narasi keselamatan.”

Kecerdasan saudara perempuan Musa mengajarkan bahwa strategi dan keberanian bisa berjalan bersama kesalehan. Ia tidak hanya patuh kepada ibunya, tetapi juga mampu mengambil keputusan di bawah tekanan. Ini menjadi inspirasi bahwa peran perempuan dalam peradaban tidak pernah sekadar domestik, melainkan juga politis dan strategis.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Rabu 14 Januari 2026
Imsak
04:17
Shubuh
04:27
Dhuhur
12:05
Ashar
15:29
Maghrib
18:18
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan