LANGIT7.ID-Air sungai Nil berkilauan di bawah terik matahari Mesir. Di antara gelombang kecil, sebuah peti anyaman hanyut perlahan. Di dalamnya, bayi mungil tidur pulas. Bagi sang ibu, melepaskan peti itu ke sungai bukan sekadar tindakan putus asa, melainkan wujud ketaatan tertinggi kepada perintah Allah.
Al-Qur’an merekam peristiwa ini dalam QS. al-Qashash: 7-10: “
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.’ … Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).”
Ayat ini menggambarkan drama emosional seorang ibu yang berjuang melawan naluri demi taat pada ilham Ilahi. Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa perintah ini bukan sekadar bisikan hati, melainkan wahyu yang menguatkan keyakinan ibu Musa. “Allah memerintahkan agar Musa disusui terlebih dahulu sebelum dihanyutkan. Ini bentuk kasih sayang Allah yang tetap menjaga hubungan ibu dan anak,” tulis Ibnu Katsir dalam
Tafsir al-Qur’an al-Azhim (Dar Tayyibah, 1999).
Baca juga: Nabi Khidir: Guru Nabi Musa di Persimpangan Dua Lautan Di Tengah Teror Fir’aunKonteks peristiwa ini adalah Mesir kuno di bawah kekuasaan Fir’aun yang zalim. Ia mengeluarkan dekrit mematikan: setiap bayi laki-laki Bani Israil harus dibunuh. Tindakan ini lahir dari ketakutan politik—ramalan bahwa kelak seorang laki-laki dari Bani Israil akan menghancurkan kekuasaannya.
Karen Armstrong dalam
A History of God (1993) menyebut dekrit Fir’aun sebagai bentuk paranoia politik klasik: kekuasaan yang goyah cenderung menebar teror kepada kelompok lemah. Bagi ibu Musa, ini berarti setiap tangisan bayi bisa menjadi sinyal maut.
Para mufasir menggambarkan dilema ibu Musa sebagai pertarungan batin antara naluri keibuan dan iman. Menurut Quraish Shihab dalam
Tafsir al-Mishbah (Lentera Hati, 2002), “Ayat ini menegaskan bahwa kepasrahan kepada Allah sering kali menuntut pengorbanan terbesar—bahkan berlawanan dengan rasa aman yang manusia inginkan.”
Ketika Allah memerintahkan agar bayi itu dihanyutkan, perasaan ibu Musa hampir saja goyah. Hatinya “kosong” (farighan), sebuah istilah yang menunjukkan betapa ia kehilangan kendali emosional. Namun, Allah “menguatkan hatinya” agar tetap percaya pada janji: bayi itu akan kembali kepadanya.
Baca juga: Sapi, Darah, dan Seorang Anak yang Berbakti: Kisah di Era Nabi Musa Penyelamatan yang Penuh IroniPeti itu akhirnya ditemukan oleh keluarga Fir’aun, orang yang justru berniat membunuh bayi-bayi Israil. Ironi ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari skenario Ilahi. QS. al-Qashash: 9 mencatat kata-kata istri Fir’aun: “Ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.”
Montgomery Watt dalam
Muhammad: Prophet and Statesman (Oxford University Press, 1961), menggambarkan kekuasaan Fir’aun yang absolut, namun kisah ini menunjukkan bahwa intervensi kecil—seorang perempuan yang berbelas kasih—mampu menggagalkan kebijakan negara.
Kisah ibu Musa bukan sekadar fragmen sejarah. Ia menjadi simbol ketaatan total, bahkan ketika perintah Allah tampak berlawanan dengan logika manusia. Tafsir Sayyid Qutb dalam
Fi Zhilal al-Qur’an (Dar al-Syuruq, 2003) menekankan makna spiritual kisah ini: “Siapa pun yang menyerahkan urusannya kepada Allah akan diselamatkan, meski jalan keselamatan itu tampak mustahil.”
Dalam kehidupan modern, cerita ini kerap dijadikan inspirasi tentang keberanian melepaskan demi kepercayaan pada takdir. Kepatuhan ibu Musa membuktikan bahwa iman sejati adalah keberanian untuk taat tanpa syarat, bahkan ketika masa depan diselimuti ketidakpastian.
Baca juga: Doa-doa Nabi Musa yang Tak Lelah Melawan Fir’aun(mif)