Perempuan dalam Al-Qur’an: Dari Sungai Nil hingga Madinah
Miftah yusufpati
Kamis, 11 September 2025 - 16:13 WIB
Di tengah perdebatan modern tentang posisi perempuan, kisah-kisah ini seolah menjadi suara abadi: bahwa iman bukan hanya soal ritual, melainkan juga keberanian mengambil sikap. Ilustrasi AI
LANGIT7.ID-Di tengah pusaran kisah para nabi dan tokoh besar dalam Al-Qur’an, ada sosok-sosok perempuan yang tampil dengan sikap luar biasa. Mereka hadir bukan sebagai figur pelengkap, melainkan sebagai teladan dalam iman, kecerdikan, hingga keberanian moral.
Dari ibu Musa hingga Khaulah binti Tsa’labah, Al-Qur’an merekam peran perempuan sebagai subjek sejarah yang aktif, berani mengambil keputusan, bahkan menggugat ketidakadilan.
Sejarawan Fazlur Rahman dalam Islam (1979) menyebut bahwa Al-Qur’an menempatkan perempuan dalam ruang spiritual yang setara dengan laki-laki. “Kesalehan, keberanian, dan kepasrahan bukanlah monopoli satu jenis kelamin,” tulisnya.
Ibu Musa
Kisah dimulai dari seorang ibu yang hatinya kosong karena cemas: ibu Musa. Allah mengilhaminya untuk meletakkan bayi Musa di Sungai Nil. Keputusan itu tampak mustahil, bahkan absurd. Namun ia patuh. Dan kepatuhan itu menjadi penyelamat.
Baca juga: Kisah Ibu Nabi Musa dan Kepatuhannya terhadap Perintah Allah
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (2000), sikap ibu Musa mencerminkan puncak tawakal. “Ia nyaris membocorkan rahasia, tetapi Allah teguhkan hatinya. Inilah potret keimanan yang bergulat dengan rasa takut,” tulisnya.
Dari ibu Musa hingga Khaulah binti Tsa’labah, Al-Qur’an merekam peran perempuan sebagai subjek sejarah yang aktif, berani mengambil keputusan, bahkan menggugat ketidakadilan.
Sejarawan Fazlur Rahman dalam Islam (1979) menyebut bahwa Al-Qur’an menempatkan perempuan dalam ruang spiritual yang setara dengan laki-laki. “Kesalehan, keberanian, dan kepasrahan bukanlah monopoli satu jenis kelamin,” tulisnya.
Ibu Musa
Kisah dimulai dari seorang ibu yang hatinya kosong karena cemas: ibu Musa. Allah mengilhaminya untuk meletakkan bayi Musa di Sungai Nil. Keputusan itu tampak mustahil, bahkan absurd. Namun ia patuh. Dan kepatuhan itu menjadi penyelamat.
Baca juga: Kisah Ibu Nabi Musa dan Kepatuhannya terhadap Perintah Allah
Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (2000), sikap ibu Musa mencerminkan puncak tawakal. “Ia nyaris membocorkan rahasia, tetapi Allah teguhkan hatinya. Inilah potret keimanan yang bergulat dengan rasa takut,” tulisnya.