home masjid

Seni dalam Islam: Antara Larangan, Anugerah, dan Ruang Tauhid

Kamis, 11 September 2025 - 16:25 WIB
Dari kisah Ibrahim menghancurkan berhala hingga Sulaiman menerima patung sebagai anugerah, seni dalam Islam tak pernah hitam-putih. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah ruang kelas seni rupa di Yogyakarta, seorang dosen bertanya pada mahasiswanya: “Bolehkah seorang muslim melukis wajah manusia?” Pertanyaan itu memancing gelak tawa sekaligus keraguan. Di balik kanvas, isu lama kembali hidup: apakah Islam benar-benar menolak seni?

Pertanyaan ini sejatinya bukan milik zaman modern. Sejak awal Islam lahir, perdebatan tentang posisi seni sudah menyertai. Al-Qur’an sendiri, dalam banyak ayatnya, bicara tentang patung, pahatan, dan karya estetika. Namun sikap terhadapnya tidak tunggal.

Sayyid Quthb, dalam al-Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an (1960), menulis bahwa pada masa Nabi dan sahabat, kesenian belum menampakkan “warna Islami” yang jelas. Alasannya sederhana: masyarakat Arab ketika itu masih dalam proses membersihkan sisa-sisa jahiliah. Seni yang tumbuh rentan membawa kembali nuansa paganisme.

Karenanya, menurut Quthb, sikap kehati-hatian Nabi terhadap ekspresi seni perlu dipahami dalam konteks itu: bukan penolakan mutlak, melainkan pengendalian agar nilai tauhid tidak terganggu.

Baca juga: Amr bin Luhay dan Patung Hubal: Awal Penyembahan Berhala di Tanah Arab

Patung: Antara Larangan dan Anugerah

Al-Qur’an menyebut patung dalam beberapa kisah kunci. Dalam surah al-Anbiya (21): 51–58, Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala, kecuali yang terbesar. Tafsir klasik menjelaskan, sikap itu simbol bahwa bukan patungnya yang salah, tetapi penyembahannya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya