Omar Khayyam: Penyair, Ilmuwan, dan Sufi yang Kerap Disalahpahami
Miftah yusufpati
Jum'at, 12 September 2025 - 04:15 WIB
Dikenang sebagai penyair rubaiyat, Omar Khayyam sejatinya juga ilmuwan besar Persia. Namun terjemahan Fitzgerald membuatnya lebih dipandang hedonis ketimbang sufi dan pemikir sejati. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suara rubaiyat Omar Khayyam masih menggema dari abad ke-11 ke zaman modern. Dari Nishapur, Persia, ia menulis bait-bait pendek yang menyatukan filsafat, sains, dan renungan sufistik. Namun ironisnya, di Barat nama Khayyam lebih populer lewat terjemahan bebas Edward Fitzgerald (1859) ketimbang melalui pemahaman otentik atas karya dan jiwanya.
Lahir pada 1048 M di Nishapur, Omar Khayyam (Ghiyath al-Din Abu’l-Fath Umar ibn Ibrahim al-Khayyam) dikenal bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga ilmuwan. Ia menyusun reformasi kalender Jalali pada masa Sultan Malik-Shah, yang akurasinya bahkan lebih presisi daripada kalender Gregorian (Kennedy, Journal for the History of Astronomy, 1975).
Khayyam juga menulis risalah matematika tentang persamaan kubik dan geometri non-Euclidean, menjadikannya pelopor dalam ilmu aljabar. George Sarton, dalam Introduction to the History of Science (1927), menyebut Khayyam sebagai “salah satu matematikawan terbesar Persia.”
Namun, di luar sains, namanya lebih diingat lewat rubaiyat—puisi empat baris yang penuh metafora tentang anggur, cinta, dan kefanaan.
Baca juga: Ilmuwan Dunia Temukan Cara Memperbaiki Jalan Berlubang tanpa Campur Tangan Manusia
Bayang-bayang Fitzgerald
Di Inggris era Victoria, Edward Fitzgerald menerjemahkan Rubaiyat of Omar Khayyam (1859). Terjemahan itu meledak, menjadikan Khayyam ikon eksotisme Timur. Namun para ahli kemudian menilai Fitzgerald terlalu bebas, bahkan menambahkan nuansa anti-Sufi.
Lahir pada 1048 M di Nishapur, Omar Khayyam (Ghiyath al-Din Abu’l-Fath Umar ibn Ibrahim al-Khayyam) dikenal bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga ilmuwan. Ia menyusun reformasi kalender Jalali pada masa Sultan Malik-Shah, yang akurasinya bahkan lebih presisi daripada kalender Gregorian (Kennedy, Journal for the History of Astronomy, 1975).
Khayyam juga menulis risalah matematika tentang persamaan kubik dan geometri non-Euclidean, menjadikannya pelopor dalam ilmu aljabar. George Sarton, dalam Introduction to the History of Science (1927), menyebut Khayyam sebagai “salah satu matematikawan terbesar Persia.”
Namun, di luar sains, namanya lebih diingat lewat rubaiyat—puisi empat baris yang penuh metafora tentang anggur, cinta, dan kefanaan.
Baca juga: Ilmuwan Dunia Temukan Cara Memperbaiki Jalan Berlubang tanpa Campur Tangan Manusia
Bayang-bayang Fitzgerald
Di Inggris era Victoria, Edward Fitzgerald menerjemahkan Rubaiyat of Omar Khayyam (1859). Terjemahan itu meledak, menjadikan Khayyam ikon eksotisme Timur. Namun para ahli kemudian menilai Fitzgerald terlalu bebas, bahkan menambahkan nuansa anti-Sufi.