Seni Islami: Antara Keindahan, Fitrah, dan Dakwah
Miftah yusufpati
Ahad, 14 September 2025 - 04:15 WIB
Seni Islami tidak terbatas bahasa Arab atau simbol agama. Ia lahir dari fitrah, memadukan keindahan dan kebenaran, serta menjadi sarana dakwah yang menyapa manusia dan alam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Seni dalam Islam kerap dipahami secara sempit, seolah-olah harus dibatasi oleh bahasa Arab atau secara eksplisit mengusung ajaran-ajaran Islam. Padahal, pandangan para pemikir Islam menegaskan bahwa seni Islami lebih luas dari itu. Ia adalah ekspresi keindahan yang berpijak pada fitrah manusia dan pandangan Islam tentang alam, kehidupan, dan kemanusiaan.
Muhammad Quthb, seorang pemikir Muslim terkemuka, menulis:"Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah." (Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, hlm. 119).
Artinya, seni Islami tidak dibatasi oleh bentuk maupun bahasa, melainkan oleh nilai dan visi yang dikandungnya.
Quthb mengingatkan, seorang seniman boleh menggambarkan realitas masyarakat, berimajinasi, atau memadukan berbagai bentuk ekspresi, selama tidak bertentangan dengan fitrah dan pandangan Islam tentang manusia dan alam. Seni yang hanya menonjolkan aspek jasmani manusia, tanpa menghadirkan roh Ilahi, dianggap tidak sejalan dengan ruh Islam.
Baca juga: Seni Suara di Mata Islam: Dari Madinah hingga Musiqa al-Qur’an
Hal ini ditegaskan pula oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam karyanya Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Menurutnya, seni Islami idealnya menggabungkan unsur keindahan dengan ruh dakwah, sebagaimana Al-Quran yang mengajarkan melalui kisah-kisah penuh makna.
Al-Quran sebagai Inspirasi Estetika
Muhammad Quthb, seorang pemikir Muslim terkemuka, menulis:"Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah." (Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, hlm. 119).
Artinya, seni Islami tidak dibatasi oleh bentuk maupun bahasa, melainkan oleh nilai dan visi yang dikandungnya.
Quthb mengingatkan, seorang seniman boleh menggambarkan realitas masyarakat, berimajinasi, atau memadukan berbagai bentuk ekspresi, selama tidak bertentangan dengan fitrah dan pandangan Islam tentang manusia dan alam. Seni yang hanya menonjolkan aspek jasmani manusia, tanpa menghadirkan roh Ilahi, dianggap tidak sejalan dengan ruh Islam.
Baca juga: Seni Suara di Mata Islam: Dari Madinah hingga Musiqa al-Qur’an
Hal ini ditegaskan pula oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam karyanya Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Menurutnya, seni Islami idealnya menggabungkan unsur keindahan dengan ruh dakwah, sebagaimana Al-Quran yang mengajarkan melalui kisah-kisah penuh makna.
Al-Quran sebagai Inspirasi Estetika