LANGIT7.ID- Seni dalam Islam kerap dipahami secara sempit, seolah-olah harus dibatasi oleh bahasa Arab atau secara eksplisit mengusung ajaran-ajaran Islam. Padahal, pandangan para pemikir Islam menegaskan bahwa seni Islami lebih luas dari itu. Ia adalah ekspresi keindahan yang berpijak pada fitrah manusia dan pandangan Islam tentang alam, kehidupan, dan kemanusiaan.
Muhammad Quthb, seorang pemikir Muslim terkemuka, menulis: "Kesenian Islam tidak harus berbicara tentang Islam. Ia tidak harus berupa nasihat langsung, atau anjuran berbuat kebajikan, bukan juga penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang Islami adalah seni yang dapat menggambarkan wujud ini, dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah." (
Manhaj Al-Tarbiyah Al-Islamiyah, hlm. 119).
Artinya, seni Islami tidak dibatasi oleh bentuk maupun bahasa, melainkan oleh nilai dan visi yang dikandungnya.
Quthb mengingatkan, seorang seniman boleh menggambarkan realitas masyarakat, berimajinasi, atau memadukan berbagai bentuk ekspresi, selama tidak bertentangan dengan fitrah dan pandangan Islam tentang manusia dan alam. Seni yang hanya menonjolkan aspek jasmani manusia, tanpa menghadirkan roh Ilahi, dianggap tidak sejalan dengan ruh Islam.
Baca juga: Seni Suara di Mata Islam: Dari Madinah hingga Musiqa al-Qur’an Hal ini ditegaskan pula oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam karyanya
Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Menurutnya, seni Islami idealnya menggabungkan unsur keindahan dengan ruh dakwah, sebagaimana Al-Quran yang mengajarkan melalui kisah-kisah penuh makna.
Al-Quran sebagai Inspirasi EstetikaAl-Quran sendiri, kata Quraish Shihab, menggunakan pendekatan seni dalam menyampaikan ajarannya. Ia melukiskan gejolak nafsu, kelemahan manusia, hingga kesadaran spiritual secara dramatis, seperti dalam kisah Nabi Yusuf (QS Yusuf [12]: 23–24). Namun, penggambaran itu tidak berhenti pada aspek jasmani semata, melainkan diarahkan pada pertemuan manusia dengan dimensi Ilahiah.
Selain manusia, alam pun digambarkan dengan sentuhan artistik. Tanah gersang dilukiskan sebagai “tanah mati” dan tanah subur sebagai “tanah hidup” (QS Al-Baqarah [2]:164). Bahkan, langit dan bumi digambarkan sebagai entitas hidup yang berdialog dengan Allah (QS Al-Fushshilat [41]:11).
Bagi Quraish Shihab, gaya bahasa ini bukan hanya aspek estetika, melainkan sarana pendidikan rohani yang menyentuh totalitas manusia. Seni dalam Al-Quran hadir untuk menanamkan kesadaran akan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca juga: Seni dalam Islam: Antara Larangan, Anugerah, dan Ruang TauhidDengan demikian, seni dalam perspektif Islam tidak hanya hiburan. Ia berfungsi sebagai sarana dakwah, pendidikan, dan refleksi spiritual. Selama seniman menjaga nilai fitrah dan pandangan Islam tentang wujud, setiap bentuk ekspresi—baik nyanyian, kisah, maupun gerak tubuh—dapat menjadi bagian dari seni Islami.
Di sinilah letak relevansinya dengan kondisi kekinian. Seni Islami bukan berarti seragam, kaku, atau eksklusif. Ia justru membuka ruang luas bagi kreativitas, selama tetap menghubungkan keindahan dengan kebenaran. Seperti diungkapkan Nabi Muhammad Saw. tentang Gunung Uhud:
Ungkapan itu, sebagaimana Al-Quran dan sunnah pada umumnya, menunjukkan bahwa seni Islami adalah seni yang hidup, menyapa, dan menghidupkan, baik bagi manusia maupun alam semesta.
(mif)